24 Jam di Pulau Pinang, Kemana Aja?

Pulau Pinang atau Penang merupakan salah satu tempat di Malaysia yang populer sebagai tempat wisata. Selain terkenal dengan rumah sakitnya, pulau ini juga kaya akan sejarah dan pantainya pun cukup terkenal. Ibukotanya, George Town, juga menjadi UNESCO World Heritage Site sebagai kota bersejarah bersama-sama dengan Malaka. Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan menyambangi pulau ini bersama dengan kedua teman saya, Saleh dan Dani. Pukul 03.00 WIB, kami sudah stand by di Bandara Kualanamu untuk menunggu pesawat AirAsia pukul 05.15 WIB yang akan membawa kami ke Penang. Continue reading “24 Jam di Pulau Pinang, Kemana Aja?”

Iklan

Calton Hill, Bukit Penuh Monumen di Ibukota Skotlandia

Sebelum membahas tentang Calton Hill, saya akan membahas tentang United Kingdom dan Skotlandia. Seperti kita ketahui, United Kingdom atau Britain merupakan sebuah kerajaan yang terdiri atas empat negara, yaitu Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara. Nama lengkap United Kingdom sendiri yaitu United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland dan Great Britain merupakan satu pulau besar yang terdiri atas Skotlandia, Inggris, dan Wales. Hubungan antara negara dalam United Kingdom bisa dibilang cukup unik. Salah satu contohnya dalam bidang olah raga. Continue reading “Calton Hill, Bukit Penuh Monumen di Ibukota Skotlandia”

Melihat Dubai dari Ketinggian 452 m

Karena bosan menunggu saat transit selama 9 jam lebih di Bandara Internasional Dubai, saya bersama dengan dua orang teman saya memutuskan untuk keluar Bandara. Karena waktunya juga memungkinkan untuk mengeksplorasi kota Dubai (tiba dari Jakarta pukul 05.30 dan penerbangan berikutnya pukul 15.00), maka kami manfaatkan saja kesempatan ini. Sebelum keluar, kami menukar uang dahulu di Travelex ke Dirham UAE (AED; 1 AED sekitar Rp3.600). Bandara Internasional Dubai terhubung dengan stasiun Metro. Metro merupakan salah satu moda transportasi massa berbasis rel yang dimiliki oleh kota Dubai. Sampai Desember 2016, Dubai baru dilayani oleh dua line Metro. Kalau Hong Kong punya Octopus Card dan London punya Oyster Card, maka Dubai punya Nol Card. Nol Card merupakan smart card yang dapat digunakan untuk berbagai jenis moda transportasi di Dubai. Tetapi karena kami merupakan visitor dan bukan frequent traveler di Dubai, saya hanya menggunakan Nol Red Ticket ketika disana. Continue reading “Melihat Dubai dari Ketinggian 452 m”

Pertama Kali Solo Traveling – Singapura

Siapa yang tak kenal Singapura? Negara kecil di ujung Semenanjung Malaya ini sangat terkenal di kalangan turis Indonesia. Bahkan turis asing yang berkunjung ke Singapura paling banyak adalah orang Indonesia. Biasanya turis Indonesia mengunjungi Singapura melalui jalur laut dari Batam atau jalur udara dari Jakarta. Saya sendiri masuk ke Singapura melalui jalur laut dari Pelabuhan Batam Centre. Saya berangkat ke Pelabuhan Batam Centre pukul 05.30 WIB. Apabila anda berangkat pagi dari Batam, disarankan untuk check in di pelabuhan sehari sebelumnya, karena antrian check in dan imigrasi bisa sangat panjang. Sekitar pukul 06.00 WIB, kapal pun berangkat dari Pelabuhan Batam Centre menuju Singapura. Perjalanan ditempuh sekitar 1 jam dan sampai di HarbourFront pada pukul 08.00 waktu setempat. HarbourFront merupakan pelabuhan yang terhubung dengan pusat perbelanjaan dan stasiun MRT. Setelah selesai urusan imigrasi, saya langsung menuju stasiun MRT dan membeli Tourist Pass seharga S$10.00 ditambah jaminan sebesar S$5.00 untuk mendapatkan 1-day pass. Tourist Pass berfungsi sebagai tiket MRT yang berlaku selama satu hari penuh apabila anda membeli 1-day pass. Continue reading “Pertama Kali Solo Traveling – Singapura”

Overland Jatim part 2: Dari Malang ke Surabaya

Sekitar pukul 20.30 WIB, kami sampai di Pantai Balekambang setelah perjalanan dari Bromo. Kami sempat ragu apakah jalan yang kami lalui memang menuju ke Pantai Balekambang. Karena jalan yang kami lalui tersebut sangat sepi, sempit, berliku-liku, dan gelap. Sesampainya di pintu masuk pantai, mulai terdengar suara jedak-jeduk musik dangdut koplo yang diputar dari beberapa mobil truk bermuatan sound system raksasa yang sedang parkir. Tampak juga beberapa pemuda bertelanjang dada sedang asyik berjoget mengikuti irama musik. Continue reading “Overland Jatim part 2: Dari Malang ke Surabaya”

Mengejar Bus ke Muar (dari Singapura)

Kali ini merupakan kali ketiga saya mengunjungi Negeri Singa. Pada kesempatan ini saya bersama beberapa orang teman memasuki Singapura melalui jalur darat di Woodlands dengan menggunakan bus dari Malaka, Malaysia. Kami turun dari bus di checkpoint di daerah Bugis yang tak jauh dari Stasiun MRT Bugis. Kami berjalan menuju stasiun kemudian naik MRT dan turun di stasiun Farrer Park. Dari stasiun Farrer Park kami berjalan kaki menuju The Claremont Hotel di Serangoon Road. Kami berencana menginap di Singapura hanya satu malam kemudian berangkat menuju Muar, Malaysia keesokan harinya. Continue reading “Mengejar Bus ke Muar (dari Singapura)”

Pertama Kali ke Luar Negeri – Malaysia

Maret 2012 lalu, tepatnya bertepatan dengan long weekend hari raya Nyepi, merupakan pertama kalinya saya ke luar negeri. Negeri Jiran Malaysia menjadi tujuan saya bersama beberapa orang teman saya yang juga baru pertama kali ke luar negeri.  Kami memasuki Malaysia melalui rute laut, tepatnya di Pelabuhan Klang. Meskipun cuma sebentar dan hanya sedikit yang bisa dilihat, tetapi saya merasa perlu untuk menceritakannya kepada teman-teman semua. Continue reading “Pertama Kali ke Luar Negeri – Malaysia”

Bukittinggi: Seramah Jogja, Sesejuk Bandung

Bukittinggi adalah salah satu kota di provinsi Sumatera Barat yang terletak di dataran tinggi Minangkabau, 90 km dari kota Padang. Kota ini terkenal sebagai kota wisata yang sejuk karena terletak di dekat dua gunung, yaitu Gunung Singgalang dan Gunung Marapi. Selain Kota Medan, Bukittinggi juga pernah dijuluki sebagai Paris van Sumatra. Karena tertarik dengan cerita-cerita mengenai keindahan alam Kota Bukittinggi, saya mengajak lima orang teman saya untuk berwisata ke kota ini. Continue reading “Bukittinggi: Seramah Jogja, Sesejuk Bandung”

Private Tour Menjelajah Ibukota Brunei

Brunei Darussalam, negara di Asia Tenggara yang mungkin jarang diminati oleh wisatawan. Negara berbentuk Monarki Absolut ini terletak di utara Pulau Kalimantan dan berbatasan langsung dengan Malaysia. Beberapa waktu yang lalu, saya menjelajah ibukota Kesultanan Brunei, Bandar Seri Begawan, dalam waktu satu hari saja. Setelah sarapan pagi, saya menuju ke sebuah halte untuk mencari taksi atau bus yang bisa mengantarkan saya mengelilingi kota. Setelah setengah jam menunggu, bus atau taksi yang ditunggu tak kunjung muncul juga. Saya pikir karena Brunei merupakan negara yang cukup maju di kawasan Asia Tenggara, maka tak sulit untuk menemukan moda transportasi publik. Dugaan saya ternyata salah besar. Mungkin karena hampir semua penduduk Brunei sudah memiliki kendaraan pribadi. Continue reading “Private Tour Menjelajah Ibukota Brunei”

Malaka: The Living Museum

Pada 7 Juli 2008, Malaka ditetapkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO. Kota ini dahulu merupakan pusat niaga antara dunia barat dan dunia timur. Pernah dikuasai oleh Portugis, Belanda, dan Inggris sehingga arsitektur bangunan disini pun banyak dipengaruhi oleh gaya Eropa. Selain itu, bangsa Tiongkok dan India yang dahulu banyak berdagang di kota ini juga mempengaruhi kehidupan di Malaka. Setahun sebelumnya, saya sempat mampir sebentar ke kota ini. Meskipun sebentar, tetapi cukup untuk memberi gambaran kepada saya percampuran budaya yang cukup unik di kota ini.

On 7 July 2008, Malacca has been listed as a World Heritage Site by UNESCO. This town was a central trading port that connects western to eastern worlds. The architecture of this town is mainly affected by European influence because this town was once ruled by Portuguese, Dutch, and British. Chinese and Indian merchants who settled in this town also add extra colour to Malacca. A year before, I briefly visited this town. Even though it was a very short visit, it is enough to bring me the unique image of cultural mix in this town. Continue reading “Malaka: The Living Museum”