Sebenarnya saya tidak ingin mem-posting tulisan ini karena bukan merupakan contoh yang baik. Tetapi setelah dipikir mentah-mentah sepertinya perlu juga di-posting supaya tidak dicontoh oleh teman-teman. Hehehe… Jadi beberapa waktu yang lalu, saya bersama seorang teman bernama Nino berkesempatan mengunjungi Banda Aceh dan berencana untuk menyeberang ke Sabang. Dari hotel tempat kami menginap, sekitar pukul 07.00 kami dijemput oleh seorang supir yang merupakan kenalan dari temannya Nino. Pak Supir langsung mengantarkan kami ke Pelabuhan Ulee Lheue dimana kapal yang akan mengantarkan kami ke Sabang akan berangkat.

Sesampainya di pelabuhan, sudah banyak wisatawan yang akan menyeberang ke Sabang juga. Sepertinya para wisatawan tersebut ikut rombongan tertentu. Maklum pada saat itu bertepatan dengan long weekend Tahun Baru Imlek. Pak Supir pun dengan pesimisnya mengatakan, “kayaknya tiketnya sudah habis nih, bang. Nanti saya coba hubungi teman saya”. “Saya coba ke loket dulu deh, pak”, jawab saya. Saya dan Nino kemudian menuju loket penjualan tiket yang pada saat itu tidak ada orang mengantri sementara pak Supir masih menunggu di tempat parkir. Terdapat dua jenis kapal penyeberangan yang melayani rute Banda Aceh – Sabang, yaitu kapal cepat dan kapal lambat. Kapal cepat menempuh perjalanan sekitar 45 menit dengan keberangkatan dua kali sehari pada weekdays dan tiga kali sehari pada weekend, sementara waktu yang diperlukan oleh kapal lambat sekitar 1,5 sampai 2 jam dengan keberangkatan sama seperti kapal cepat. Saat itu kami mengincar kapal cepat dengan keberangkatan paling pagi sekitar pukul 09.00. Sesampainya di loket, petugas memberi tahu kalau tiket untuk hari itu telah habis, baik untuk kapal cepat maupun lambat. Kami pun kembali menuju ke pak Supir yang masih menunggu kami di tempat parkir.

Dapet, bang?”, tanya pak Supir ketika kami mendekatinya. “Habis, pak”, jawab Nino. “Yuk, ikut saya, bang”, pak Supir mengajak kami menuju ke dalam pelabuhan. Kami pun berjalan mengikuti pak Supir. Terdapat satu kapal cepat yang sedang bersandar di dermaga. Sesampainya di dekat kapal, pak Supir menemui seorang temannya yang merupakan salah seorang awak kapal dan langsung mengobrol dalam bahasa setempat. Tak lama kemudian pak Supir menghampiri kami dan kemudian menyampaikan bahwa kami dapat masuk ke kapal tanpa tiket. Hanya tinggal bayar saja sesuai harga tiket kepada awak kapal. “Gapapa nih, pak?”, tanya saya ragu. “Iya gapapa, ayo ikut saya”, kata pak Supir. Kami berjalan lagi di belakang pak Supir yang berjalan menuju kapal. Tampak antrian penumpang yang akan masuk ke kapal sedang diperiksa tiketnya oleh petugas kapal. Salah seorang awak kapal menghampiri kami kemudian berbicara kepada pak Supir. Tak lama kemudian awak kapal tadi memanggil saya dan Nino dan mengarahkan kami berdua ke bagian belakang kapal. Kami berdua kemudian diarahkan untuk lompat ke kapal. Ya, lompat. Tanpa titian atau jembatan untuk menuju ke kapal tersebut. Dengan jarak sekitar satu meter dan dipisahkan oleh laut, kami lompat ke geladak belakang kapal mengikuti awak kapal tadi. Sesampainya di geladak, kami membayar sejumlah harga tiket kepada awak kapal tadi. “Dengan abang siapa?”, tanya saya kepada awak kapal. “Ijonk”, katanya. Kami langsung menuju ke dalam kabin yang pada saat itu telah terisi sebagian kemudian duduk di kursi yang masih kosong.

Tak lama kemudian, kabin terisi penuh. Banyak juga yang berdiri karena tidak mendapatkan tempat duduk pada saat itu. Dalam hati saya bergumam, “banyak juga yang ga dapet tiket”. Selang sebentar, kapal mulai bergerak meninggalkan pelabuhan dan menuju ke Pulau Weh. Sepanjang perjalanan saya deg-degan kalau-kalau ada pemeriksaan tiket dan kami tidak memegang tiket pada waktu itu. Dalam perjalanan, seorang wanita yang duduk di sebelah saya berkata kepada saya, “banyak yang ga dapet tempat duduk, ini gara-gara banyak yang ga beli tiket dulu, nih”. Saya hanya senyum sambil berkata, “iya, nih“. Padahal saya juga termasuk yang tidak membeli tiket sebelumnya.

Setelah 45 menit berlalu, kami sampai di Pelabuhan Balohan di Sabang. Untungnya tidak ada pemeriksaan tiket sewaktu di dalam kapal. Sesampainya di pelabuhan, kami langsung menuju loket penjualan tiket untuk memesan tiket kembali ke Banda Aceh keesokan harinya.

Iklan

27 respons untuk ‘Naik Kapal Lewat “Belakang”

  1. Saya pernah ngalami seperti ini pas mau mudik ketika masih sekolah SMA. Jadi nggak punya tiket, dan masuk ke atas kapal lewat pintu samping, sampai sana nyari kapten kapal yang dikenal keluargaku buahahaha. Ya Allah, zaman nggak ada uang dan pengen pulang ahhahaha

  2. Waduuhh! Semoga cukup sekali itu aja ya kepepetnya, hehe! Kita harus tetap waspada jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi selama pelayaran.

    Tanpa tiket berarti nama kita tidak masuk manifest penumpang , jumlah tiket yang dijual biasanya tergantung pada kapasitas muatan beban, jumlah baju pelampung serta kapasitas life raft yang ada di kapal.

  3. wahah jadi merasa beruntung nih mas pas ke Sabang kemarin saya dapet tiket ferry nya walau belinya on the spot hihi
    pengalaman yg seru dan tak terlupakan. semoga tak terulang lg ya naik ferry lewat belakangnya :p

    salam kenal,
    ceritaliana.com

  4. Kalau pas liburan panjang memang tiket rawan habis. Jadi yaa salah satu caranya nego sama awak kapal. Kalau pas beruntung bisa masuk. Tapi aku belum pernah kayak gini sih mas 😀

  5. Keren ya bisa begitu. Tapi selain itu informasinya juga bagus. Masih jarang nih liputan dari tempat wisata sebelah barat indonesia… Sukses selalu!

  6. tempo lalu waktu aku ke Sabang, kapal cepat hampir batal berangkat karena ombak.

    Sebenarnya sistem seperti ini tanpa tiket justru tingkat keselamatan jadi rendah. harusnya kapal maksimal muatan jadi lebih, hal ini bisa jadi kecelakaan kan.

  7. Keren banget kak bisa nerobos gitu, ehehehe. Tapi ngeri juga sih karena yg ‘diselipin’nya ternyata banyak juga. Bahaya kalo misalnya kapal overloaf, bisa tenggelam.. hii.

    Fajarwalker.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s