Sungai Mekong merupakan sungai terpanjang ketujuh di Asia dan yang terpanjang ke-12 di dunia. Sungai ini bermula dari Provinsi Yunnan di Tiongkok dan berakhir di Laut Cina Selatan. Vietnam merupakan negara terakhir yang dilewati sungai ini setelah sebelumnya melewati Kamboja, Laos, Thailand, dan Myanmar. Salah satu daerah di Vietnam yang menggantungkan hidupnya pada sungai Mekong adalah daerah Mekong Delta di barat daya. Mekong Delta terdiri atas beberapa provinsi dan merupakan daerah paling produktif di Vietnam terutama di bidang pertanian dan perikanan. Sewaktu mengunjungi Vietnam beberapa waktu yang lalu, Mekong Delta juga menjadi salah satu tujuan utama saya. Dengan menggunakan jasa Tuan Travel yang saya pesan semalam sebelumnya, saya memilih paket tur ke Mekong Delta tepatnya ke Cai Be untuk melihat pasar apung di sungai Mekong. Terdapat beberapa tur yang ditawarkan oleh Tuan Travel, selain Cai Be, terdapat juga paket tur ke My Tho, Cu Chi Tunnel, Cao Dai Temple, dan lain-lain.

Setelah sarapan pagi sekitar pukul 08.00 waktu setempat, saya bersama teman saya dijemput oleh guide yang langsung mengantarkan kami ke kantor Tuan Travel. Setelah para turis terkumpul, kami segera masuk ke sebuah medium bus. Selain kami, seingat saya ada empat turis wanita asal Korea yang duduk di kursi belakang, beberapa turis bule, sepasang suami istri dari India, dan juga beberapa turis lokal. Bus baru jalan beberapa menit, kemudian guide memperkenalkan diri. Saya lupa nama asli guide tersebut, tetapi dia biasa dipanggil Tom atau dengan nickname Mr. Lovely. Perjalanan ke Cai Be ditempuh dalam waktu sekitar 2,5 jam dari Kota Ho Chi Minh. Sekitar pukul 10.30 waktu setempat kami sampai di boat station untuk kemudian naik kapal kecil yang akan mengantarkan kami menyusuri coklatnya sungai Mekong. Berdasarkan penjelasan dari Tom, sungai Mekong berwarna coklat karena tingginya kadar alum pada air sungai tersebut. Alum merupakan bahan kimia yang biasa digunakan sebagai pemurni air dan kosmetik. Tujuan pertama kami tentu saja floating market, tetapi sayangnya floating market tersebut hanya ada pada pagi hari, sehingga saat kami sampai di sana hanya sisa-sisanya saja yang terlihat dan kami hanya mendengarkan ceritanya saja mengenai pasar apung tersebut.

Kapal yang kami naiki pun menepi. Kami dibawa ke sebuah tempat yang mirip restoran. Saya dan teman-teman duduk satu meja dengan sepasang suami istri asal India. Setelah para peserta tur duduk manis di kursinya masing-masing, Tom memulai penjelasan mengenai Royal Jelly dan peternakan lebah yang ternyata restoran yang kami tempati merupakan bagian dari peternakan lebah madu tersebut. Sambil mendengarkan penjelasan dari Tom, kami minum teh dengan royal jelly yang disuguhkan oleh pengelola. Dijelaskan bahwa royal jelly merupakan makanan khusus yang hanya boleh dimakan oleh ratu lebah dan larva. Royal jelly juga kaya akan vitamin dan mineral sehingga sangat baik dikonsumsi oleh manusia. Setelah minum teh, kami diajak melihat cara pembuatan pop rice dan coconut candy. Proses pembuatan pop rice hampir sama dengan pop corn, bedanya kalau pop corn menggunakan jagung, maka pop rice menggunakan beras sebagai bahan dasar. Sedangkan coconut candy kalau menurut saya, rasanya hampir seperti dodol yang banyak dijual di Indonesia.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Tom pun mengajak kami naik lagi ke kapal kemudian menyusuri sungai untuk menuju ke tempat makan siang. Kali ini kami duduk semeja lagi dengan suami istri asal India tadi yang saya lupa namanya siapa. Menu makan siang saat itu adalah nasi dengan spring roll dan sup. Tom memberi tahu kami kalau spring roll tersebut mengandung daging babi. Saya dan teman-teman meminta menu lain untuk dihidangkan. Suami istri asal India tadi juga memesan menu lain sama dengan kami. Kemudian Tom pun mengganti menu saya dengan nasi, ayam, dan sup ubi ungu (purple yam). Sembari makan, kami juga disuguhi pertunjukan musik dan drama tradisional Vietnam, tentunya menggunakan bahasa Vietnam yang tidak kami mengerti. Setelah menu utama selesai, kami disuguhi buah-buahan tropis seperti jambu biji, nangka, semangka, lengkeng, dan pisang yang sebenarnya di Indonesia pun bukan hal asing.

Selesai makan siang, kami diajak menyusuri jalan setapak di belakang rumah makan yang ternyata menuju ke anak sungai. Di anak sungai tersebut sudah ada beberapa perahu kecil terparkir dengan masing-masing perahu sudah terisi satu orang warga setempat. Para peserta tur kemudian naik ke masing-masing perahu kecil yang terparkir tersebut. Satu perahu berkapasitas lima orang yang terdiri atas empat orang turis dan satu orang warga lokal sebagai pendayung. Kami naik perahu kecil tersebut sampai ke kapal yang mengangkut kami pertama kali.

Kapal yang mengangkut kami berhenti di boat station dekat sebuah pasar tradisional. Saya lupa apakah boat station tersebut sama dengan tempat kami naik kapal pertama kali. Tom jalan paling depan sementara saya dan teman-teman berjalan di paling belakang. Kami berjalan menyusuri pasar tersebut untuk kembali ke mobil yang akan mengantarkan kami ke Ho Chi Minh City. Saya dan teman-teman sempat tersesat karena kami harus pergi ke toilet dulu sementara Tom dan yang lainnya jalan terus. Akhirnya kami sampai di pinggir jalan besar dan untungnya Tom kemudian menjemput kami kembali menuju Ho Chi Minh City.

Iklan

36 respons untuk ‘Mengintip Kehidupan di Delta Sungai Mekong

  1. Hmm, perjalanan yang kaya. Kehidupan manusia dari zaman dulu memang terpusat di daerah sungai. Jadi, bisa dipastikan kalau kehidupan sekitar sungai pasti sangat menarik untuk dilihat. Apalagi ternyata sungainya lebar banget, ya… seumur-umur saya belum pernah lihat, hehe.
    Menurut saya turnya memuaskan, karena banyak kulinernya.

  2. Menarik sekali melihat dari dekat kehidupan orang Delta Mekong. Agak mirip banjarmasin dan kota2 lain di pinggir sungai lainnya di Indonesia ya. Mereka kok gak nyuguhin ikan aja ya? Kan pasti berlimpah deh

  3. Waktu saya ikut tur Cai Be, juga tidak melihat floating market. Hanya kapal kapal kayu yang bersanda. Saya pikir waktu itu bagusan di Teluk Baintan hahaha… Terus tidak ada juga pasar tradisionalnya. Sementara menuju tempat makan siang itu dulu kami diantar Perahu, kalau ini Terbalik ya, makan siang dulu baru naik perahu. Kesimpulan umum adalah, Vietnam jago banget mengemas paket tour, hal yang biasa saja setiap hari di sambari turis banyak sekali

  4. itu nuansanya mirip2 indonesia.. makanannya juga tuh…. tapi pasti beda bngt…. sungainya cokelat juga yak..

    btw aku kok lupa ya mas, wisata susur sungai di indo itu dmn aja ya.. pernah baca tp lupa. wlkwkw

  5. Walaupun hidup di kota (ber)sungai, tetap saja kalau datang ke tempat baru yang ada sungai, bawaannya mau naik perahu sambil ngeliatin kehidupan masyarakat yang ada di sekitaran sungai.

    Kalau sungainya bersih, bonusnya bisa berenang bareng 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s