Pulau Pinang atau Penang merupakan salah satu tempat di Malaysia yang populer sebagai tempat wisata. Selain terkenal dengan rumah sakitnya, pulau ini juga kaya akan sejarah dan pantainya pun cukup terkenal. Ibukotanya, George Town, juga menjadi UNESCO World Heritage Site sebagai kota bersejarah bersama-sama dengan Malaka. Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan menyambangi pulau ini bersama dengan kedua teman saya, Saleh dan Dani. Pukul 03.00 WIB, kami sudah stand by di Bandara Kualanamu untuk menunggu pesawat AirAsia pukul 05.15 WIB yang akan membawa kami ke Penang. Setelah sampai di Penang International Airport pada pukul 07.00 waktu setempat dan selesai urusan imigrasi, kami langsung menuju halte bandara untuk menunggu bus Rapid Penang yang akan membawa kami ke Georgetown. Terdapat dua macam bus yang melayani rute bandara menuju Georgetown, yaitu 401 dan 401E. Kedua bus ini melayani rute Balik Pulau-Jetty dan sebaliknya. Apabila anda ingin menuju Georgetown, anda bisa naik bus 401 atau 401E jurusan Jetty kemudian turun di halte Lebuh Chulia (Chulia Street). Kami menunggu cukup lama sampai bus datang. Tarif bus yaitu RM2.70 per orang dan perjalanan ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit.

Sesampainya di Lebuh Chulia, kami langsung sarapan di sebuah restoran India. Setelah makan, kami berjalan kaki menuju Love Lane yang terkenal banyak terdapat akomodasi murah untuk mencari penginapan. Di perjalanan menuju Love Lane, tepatnya di persimpangan Lebuh King, kami melihat tempat penyewaan mobil dan sepeda motor. Tiba-tiba terlintas di pikiran kami untuk menyewa mobil saja agar lebih leluasa mengelilingi Penang. Kami menyewa mobil Proton Saga berwarna ungu dengan harga sewa sebesar RM133.00 selama 24 jam. Jadilah Saleh sebagai driver, saya sebagai riding shotgun, dan Dani sebagai boss di kursi belakang. Karena bahan bakar tinggal sedikit, maka tujuan pertama kami yaitu SPBU Shell yang tak jauh dari Lebuh Chulia. Disini kami hanya membayar kemudian mengisi sendiri bahan bakar ke mobil kami. Setelah itu, kami langsung menuju Tropical Spice Garden yang terletak di Teluk Bahang, tepat berseberangan dengan Pantai Batu Ferringhi. Sebelum memasuki taman, kami sempat berfoto sebentar di pantai.

Biaya untuk memasuki Tropical Spice Garden yaitu sebesar RM15.00 per orang. Sebelum memasuki area taman, kami harus mengoleskan minyak serai sebagai anti nyamuk yang disediakan oleh pengelola. Di taman yang menyerupai hutan ini, banyak terdapat tanaman yang biasa di temui di hutan tropis. Terdapat juga restoran dan cooking school di tengah-tengah taman.

Hujan mulai turun ketika kami tengah asyik mengeksplorasi taman. Kami segera menuju mobil dan langsung menuju kota Georgetown. Tidak seperti Batu Ferringhi, suasana kota Georgetown masih cerah. Kami menuju ke sebuah kuil Budha yang terdapat di lorong Burma, yaitu Wat Chaiyamangkalaram. Sayangnya saat itu kuil tersebut sedang direnovasi.

Berseberangan dengan Wat Chaiyamangkalaram, terdapat kuil Budha lain yaitu Dhammikarama Burmese Temple. Kalau Wat Chaiyamangkalaram merupakan kuil bertemakan Thailand, maka Dhammikarama adalah kuil bertemakan Myanmar/Burma. Banyak terdapat patung Buddha tersebar di berbagai bangunan di komplek kuil.

Setelah puas berfoto di dua kuil tersebut, kami kemudian mengendarai menuju ke bekas benteng yang terletak di ujung timur laut Pulau Pinang, Fort Cornwallis. Benteng ini merupakan benteng terbesar yang pernah berdiri di Malaysia. Menurut sejarahnya, benteng ini belum pernah diserang oleh bangsa manapun. Biaya masuk ke benteng yaitu RM2.00 per orang. Tak jauh dari Fort Cornwallis, terdapat sebuah menara jam yang juga menjadi ikon Penang, yaitu Queen Victoria Memorial Clock Tower.

Kami makan siang di food court yang berada di komplek Fort Cornwallis kemudian melanjutkan perjalanan menuju Khoo Kongsi Temple yang berada di tengah-tengah kota tua Georgetown. Agak sulit untuk mencari kuil ini karena memang terletak di gang sempit. Di depan gang masuk ke kuil terlihat sebuah kerumunan manusia yang mengantri untuk berfoto di dekat sebuah lukisan anak kecil di sebuah dinding. Menurut saya, lukisan tersebut tidak istimewa tetapi saya heran mengapa banyak orang berkumpul disitu hanya untuk berfoto bersama lukisan tersebut. Biaya masuk ke kuil sendiri yaitu RM10.00 per orang. Kami pun mengurungkan niat untuk masuk ke kuil tersebut karena menurut kami harga tersebut terlalu mahal untuk melihat kuil.

Matahari mulai condong ke arah barat. Kami segera menuju ke Masjid Lebuh Acheh yang terletak tak jauh dari Khoo Kongsi untuk melaksanakan sholat dhuhur dan ashar. Setelah sholat dan beristirahat sejenak di Masjid Lebuh Acheh, kami segera mengendarai mobil kami ke destinasi selanjutnya. Tujuan kami kali ini agak jauh, sekitar 30 menit ke sebelah barat daya Georgetown. Kami mengunjungi Kek Lok Si Temple yang merupakan komplek kuil Buddha terbesar di Asia Tenggara. Kuil ini terletak di sebuah bukit, sehingga jalan untuk menuju ke kuil ini menanjak dan berliku-liku. Ada dua pintu masuk menuju komplek kuil, pintu masuk sebelah atas untuk menuju ke patung Kuan Yin dan pintu masuk sebelah bawah untuk menuju ke pagoda. Tidak ada biaya untuk masuk ke komplek kuil, hanya biaya parkir saja sebesar RM2.00.

Di lantai dasar kuil Kek Lok Si terdapat toko suvenir dan makanan vegetarian. Tetapi kami tidak sempat berlama-lama di kuil ini karena kami langsung menuju ke Penang Hill yang tak jauh dari Kek Lok Si. Penang Hill atau Bukit Bendera merupakan sebuah resort bukit yang sangat terkenal di Penang. Biaya untuk masuk ke Penang Hill yaitu sebesar RM30.00 termasuk biaya kereta funikular untuk naik ke atas bukit. Beruntung sewaktu kami kesana bertepatan dengan perayaan kemerdekaan Malaysia sehingga kami tidak perlu membayar biaya masuk. Bukit ini terletak sekitar 735 mdpl dan dari bukit ini dapat terlihat pemandangan kota dan jembatan Pulau Pinang. Di bukit ini juga terdapat kafe dan dua tempat ibadah, yaitu musholla dan kuil Hindu.

Hari mulai gelap ketika kami meninggalkan bukit bendera. Karena sudah mulai lapar kami memutuskan untuk mencari makan malam di sebuah mal di Georgetown. Kami makan malam dengan menu nasi goreng di foodcourt Penang Times Square. Setelah makan, kami menuju ke Masjid Negeri Pulau Pinang untuk melaksanakan sholat dan beristirahat sejenak.

Mumpung berada di Penang dan leluasa memakai kendaraan, kami ingin merasakan menyeberangi jembatan Pulau Pinang 1 yang merupakan salah satu jembatan terpanjang di Asia Tenggara. Dengan panjang 13,5 km, jembatan ini pernah menjadi jembatan terpanjang di Asia Tenggara yang terbentang di atas perairan. Jembatan ini menghubungkan Pulau Pinang dengan Seberang Perai di Semenanjung Malaya. Kami langsung mengikuti petunjuk jalan menuju Butterworth di Seberang Perai. Kali ini giliran Dani yang mengemudikan kendaraan. Sesampainya di Seberang Perai, kami langsung memutar lagi menuju Pulau Pinang. Yang penting sudah melintasi jembatan Pulau Pinang. Untuk memasuki jembatan dari Seberang Perai kami harus membayar biaya tol sebesar RM7.00, sedangkan memasuki jembatan dari arah Pulau Pinang tidak dipungut biaya. Pukul 23.00 waktu setempat, kami langsung menuju ke McD yang berada di Georgetown. Bukan untuk makan malam tetapi hanya menumpang di tempat parkirnya saja. Kami tidur di mobil sampai pagi pukul 06.00 waktu setempat kami terbangun dan segera menuju ke Masjid Kapitan Keling yang terletak di dekat persimpangan Lebuh Buckingham dan Jalan Masjid Kapitan Keling. Masjid ini merupakan salah satu masjid bersejarah di Penang. Dibangun pada abad ke 19, masjid ini sangat terawat dan bersih. Setelah sholat dan membersihkan badan, kami menuju Lebuh Chulia untuk sarapan, mengembalikan mobil dan bertolak ke Bandara untuk kembali ke Indonesia.

Iklan

28 thoughts on “24 Jam di Pulau Pinang, Kemana Aja?

  1. Karena jalannya pake mobil, jadi bisa sampe ke pantai segala ya mas. Aku waktu itu modal Go-Penang yang gratis haha, lumayan. Banyak jalan juga sih, nyari mural (walau endingnya gak ketemu semua. Panas pun). Dan gak ke Penang Hill karena persediaan ringgit menipis, itu udah hari terakhir banget di Malaysia soalnya.

    Tapi lumayan ke Kek Lok Si bisa liat Penang dari ketinggian. Banyak temen yang suka sama Penang, tapi aku pribadi lebih suka Malaka yang lebih kecil dan tenang ^^

    1. Iya mas.. lumayan.. bisa sampe nyeberang jembatan juga.. Waktu itu alhamdulillah masuk ke Penang Hillnya gratis pas hari kemerdekaan. hehehe…
      Iya, Malaka bagus juga… masing2 punya keunikannya sendiri

  2. Tulisan ini seperti memutar kembali Kenangan saya waktu jalan-jalan ke Penang dan bersama keluarga 2 tahun yang lalu. Terkesan dengan ketuaan kota ini bersanding dengan kemodernan nya dan diharmonisasikan dengan perawatan yang baik. Mural mural yang cantik untuk berfoto, gedung gedung tua yang instagramable, dan kuil-kuil yang megah. Entah mengapa burung-burung di Fort cornwallis itupun menarik 🤣🤣

  3. Pantai Batu Ferringhi dan Lorong Burma sama-sama nggak kesampaian saat aku ke Penang tahun 2014 lalu. Sempet nyesel banget karena nggak ke Batu Ferringhi cuma gara-gara travelmate yang nggak mau, padahal di sana ada kawan saya yang sedang kuliah theologi.

    Aku paling suka di Padang Kota Lama. Duduk-duduk di promenade-nya yang luas dan bersih, memandang laut.

  4. Aku jg seneng ke Penang, kotanya kecil, gak metropolitan, spot instagram-able nya banyak, biayanya juga relatif murah. Selain Malaka, Penang bisa jadi alternatif drpd KL yg terlalu “kota” hehehe..

  5. Banyak juga ya yang bisa dieksplor dalam sehari.
    Belum pernah ke Penang. Kemarin pas ke Melaka sempat ngobrol sama orang KL, dan dia rekomendasiin banget untuk ke Penang. Katanya, “Banyak spot instagram” T.T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s