Setelah beberapa waktu sebelumnya saya gagal melihat matahari terbit di Angkor Wat, Kamboja, berikutnya saya mencoba lagi untuk mengejar sunrise di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, tepatnya di Puncak Penanjakan. Kali ini saya berangkat bersama istri tercinta. Dari Bandara Juanda di Sidoarjo, kami menuju ke Terminal Bungurasih menggunakan DAMRI kemudian lanjut dari Terminal Bungurasih ke Terminal Arjosari di Malang menggunakan bus antar kota. Kami sampai di Malang sekitar pukul 7 malam dan langsung dijemput oleh mbak Riska yang merupakan tour organizer kami. Mbak Riska kemudian mengantarkan kami ke penginapan yang terletak di kaki gunung. Penginapan tersebut merupakan rumah penduduk yang memang disewakan untuk para wisatawan.

Tuan rumah kemudian menyediakan makanan untuk kami dan dua orang pengunjung lain yang juga menginap disitu. Nasi dan opor ayam langsung habis kami santap karena selain sajiannya enak, kami juga belum makan sejak mendarat di Juanda. Setelah makan, kami mandi dan langsung tidur. Sekitar pukul 1 dini hari, kami dibangunkan oleh salah seorang pemandu wisata agar bersiap-siap karena mobil jemputan akan segera datang. Setelah menunggu agak lama, tepatnya satu setengah jam, mobil jemputan kami pun datang. “Tau gitu tadi tidur dulu sambil nunggu”, kata saya dalam hati. Mobil Toyota Hardtop dengan bagian belakang terbuka tersebut sudah dinaiki oleh satu rombongan keluarga. Kami berdua pun bergabung bersama rombongan tersebut dan mobil langsung berjalan menuju Puncak Pananjakan.

Di perjalanan kami mengobrol bersama para rombongan tersebut sambil memandangi bintang yang sangat banyak terlihat di langit karena pada malam itu cuaca memang sangat cerah. Ketika kami sampai di tengah-tengah padang rumput, mobil yang kami tumpangi tiba-tiba berhenti. Ternyata di depan kami ada gundukan tanah yang agak tinggi. Bukannya berbelok untuk mencari jalan yang lebih mulus, pengemudi malah terus jalan menabrak gundukan tanah tersebut berharap dapat melewatinya. Tetapi bukannya terus maju, mobil yang kami tumpangi malah terjungkal sehingga kami semua jatuh dari mobil. Beruntung tidak ada yang tertimpa dan tidak ada yang terluka parah. Emosi kami pun untungnya masih tetap terjaga sehingga tidak memperburuk keadaan karena mau marah sebesar apapun tidak akan membuat mobil menjadi seperti sedia kala. Kami sempat sedikit panik ketika bahan bakar mobil mengalir keluar dan si pengemudi malah merokok.

Si pengemudi kemudian menelepon salah seorang temannya. Lama menunggu, kami mengobrol sambil menunggu titik cerah dari kejadian ini. Si pengemudi bilang kalau temannya sedang menuju kemari sambil membawa mobil cadangan untuk membawa kami ke Puncak Penanjakan. Satu jam berlalu mobil yang ditunggu belum datang juga. Rombongan-rombongan lain sudah banyak yang melintas tetapi karena kapasitas mobil sudah penuh sehingga tidak memungkinkan untuk mengangkut kami. Kami hanya pasrah menunggu mobil si teman dari pengumudi tadi. Agak lama kemudian teman si pengemudi datang. Tetapi bukannya membawa mobil malah menggunakan motor trail dan membawa sebuah jeriken. Saya dan seorang pria anggota rombongan ikut membantu si pengemudi dan temannya mendirikan mobil yang terjungkal. Setelah berdiri, mobil pun diisi lagi bahan bakarnya karena sudah banyak yang tumpah. Tetapi setelah diisi bahan bakar, mobil masih tidak mau dinyalakan. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul lima tepat, padahal pada saat itu matahari terbit sekitar pukul 5.20. Si pengemudi masih berusaha menyalakan mobilnya dibantu oleh temannya, tetapi masih tidak bisa. Temannya kemudian menelepon lagi dan tak lama kemudian mobil lain akhirnya datang menjemput kami. Akhirnya kami berhasil jalan ke Puncak Penanjakan ketika matahari sudah mulai terbit.

Β 

Ketika kami sampai di Puncak Penanjakan, matahari sudah terbit agak tinggi dan pengunjung lain sudah banyak yang pergi meninggalkan spot tersebut. Gagal lagi deh mau berburu matahari terbit. Singkat cerita, kami sudah kembali lagi ke penginapan. Kami segera menghubungi mbak Riska untuk memberi tahu mengenai hal tersebut. Mbak Riska langsung menemui kami di penginapan dan langsung menawarkan kompensasi karena paket wisatanya termasuk melihat matahari terbit di Puncak Penanjakan. Kebetulan saat itu kami berencana melanjutkan perjalanan ke Batu dan kami minta agar kami diantarkan ke Batu tanpa dikenakan biaya lagi. Mbak Riska pun menyetujui dan segera menelepon pengemudi yang akan mengantarkan kami ke Batu. Yeah, shit happens sometimes. Untung saja mbak Riska dan manajemen orangnya baik dan cekatan sehingga pengalaman kami ke Bromo tidak mengecewakan.

Iklan

40 thoughts on “Gagal Sunrise (Lagi) di Bromo

  1. Oh kirain gagal sunrise gegara cuaca mendung, ternyata shit happen sometime😁
    Soal nyunrise aku juga pernah gagal mas, padahal malamnya cerah bintang2 keliatan jelas. Tapi menjelang subuh malah berkabut dan akhirnya hujan. Fix mending ditenda aja ga usah bangun😁

  2. Ya ampun, itu sopir kenapa nekat nerjang gundukan tanah ya. Kalo begini kan yg rugi penumpang. Untung saja ga ada yg luka ya Mas.

    Mungkin ini tandanya Mas harus ke Bromo lagi hehe. Semoga berikutnya ketemu sunrise Mas.

  3. Ngeselin banget pasti dapat sopir seperti ini ya Mas.. Untung gak ada yg terluka, terbayang horornya saat mobil terbalik. Semoga lain kali bisa kembali ke Bromo dan ketemu dengan sunrise yang indah

  4. Kok ikut kesel aih bacanya.. Kesel sama si supir.. Pengen nyakar nyakar kak. Ahahah Ya Allah… Kebayang keselnya sihh…. Kalo gara2 cuaca sih g sekesel itu ya…

    *kenapa komenku malah kesel kesel gt ya. Ahahah

  5. What? Mobil terjungkal? Kalau aku udah bakal marah-marah itu, mas. Udah gitu pake acara ngerokok santai pula. Kayak nggak profesional gitu dan belum service-oriented. Belagu sok dibutuhin.
    I’d rather walk by myself then, minimal ada pergerakan. Satu jam lumayan lah.

  6. Yaaah, sayang banget gagal sunrise cuma karena sopirnya gegayaan bawa mobil T.T. Padahal langit cerah, ya? Aku 2 bulan lalu juga ke Bromo. Alhamdulillah bisa melihat sunrise dengan sempurna, karena sampai di Pananjakan masih jam setengah 4 pagi. Jadi dapat spot bagus, dan didukung langit juga cerah banget.

  7. Waduuuh, ceritanya bener-bener ga nyangka banget. Kirain tadi gagal sunrise gegara mendung, ternyata jeep yang jungkel.

    Kejadian ngeselin soal jeep di bromo juga pernah kualamin sih mas. Gara2 sopirnya nekat muter2 pasir berbisik yang ga pernah dilalui jeep lain, akhirnya roda jeep ambles di pasir lunak. Jadinya minta tolong jeep lain buat narikin pake webbing πŸ˜‚πŸ˜‚

  8. kalo aku laen lagi ceritanya, sudah sampai Pananjakan jam 4.45 pagi, eh anakku yg berumur 4tahun malah rewel minta turun karna nggak tahan sama udara dinginnya, akhirnya malah sibuk membujuk si anak supaya masih mau nongkrong sejenak disitu sampai mataharinya terbit ^_^

  9. Sopirnya ke pede an banget ya. mentang-mentang pakai hardtop dikiranya bisa melewati semua jenis medan. pasti kesel banget sih gagal sunrise gitu, apalagi bromo kan istimewa sunrisenya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s