Angkor Wat merupakan obyek wisata yang paling terkenal di Kamboja. Hal ini dapat diketahui dari gambar Angkor Wat yang terpampang pada bendera Kamboja. Tak heran, obyek wisata ini selalu penuh dengan turis mancanegara. Salah satu atraksi menarik yang dapat dilakukan di sini yaitu menyaksikan matahari terbit. Bisa dibayangkan betapa indahnya melihat matahari terbit dengan latar candi Angkor yang terkenal. Mungkin sensasinya hampir sama seperti melihat matahari terbit di candi Borobudur. Meskipun saya sendiri belum pernah melihat sunrise di Borobudur sampai tulisan ini diturunkan.

Sekitar pukul 4 pagi, Pak Kumis, begitu kami biasa menyebut karena kami lupa nama aslinya, sudah stand by di depan hotel tempat kami menginap. Pak Kumis merupakan pengendara tuk-tuk yang mengantarkan kami kemana-mana selama kami di Siem Reap. Selain Pak Kumis, di depan hotel juga sudah tersedia beberapa pengendara tuk-tuk yang sedang menunggu penumpangnya. Tampaknya banyak juga penghuni hotel yang akan menyaksikan matahari terbit hari itu. Kami segera naik ke tuk-tuk kemudian Pak Kumis pun segera tancap gas menuju Angkor Wat. Di jalan perut saya mulai bergejolak sedikit, tetapi saya agak tenang karena saya waktu itu berpikir bahwa Angkor Wat merupakan destinasi wisata yang populer maka toilet pasti tersedia di beberapa tempat.

Sesampainya di depan candi Angkor Wat, saya langsung mencari toilet karena gejolak di perut saya semakin menjadi. Hati saya berbunga-bunga ketika saya melihat plang penanda toilet. Saya pun langsung menuju bangunan yang ditunjukkan oleh plang tersebut. Sesampainya di sana, bunga-bunga di hati saya langsung layu karena toilet tersebut ternyata masih tutup. Saya langsung berbalik dan menuju ke Pak Kumis untuk memintanya mengantarkan saya ke toilet terdekat karena saya tidak ingin mengulangi kejadian di perbatasan Moc Bai-Bavet. Pak Kumis kemudian mengantarkan saya ke sebuah warung kopi yang terletak tak jauh dari pintu masuk candi. “Buy some coffee then they will show you the toilet”, kata Pak Kumis. Hmmm. Berarti kalau saya tidak membeli kopi atau yang lain maka saya tidak boleh ke toilet. Okelah kalau begitu saya pun segera memesan secangkir kopi kepada pemilik warung. Saat pemilik warung sedang membuat kopi, saya bertanya di mana toiletnya. Pemilik warung pun kemudian membuka pintu bagian belakang warung yang di dalamnya terdapat beberapa toilet yang sangat gelap. Karena tidak ada lampu, saya pun menggunakan cahaya dari ponsel saya untuk membantu penerangan.

Setelah selesai menunaikan hajat dan menghabiskan secangkir kopi, saya kembali ke pintu masuk candi di mana teman saya sudah menunggu. Kami segera sholat subuh karena waktu sudah menunjukkan waktu subuh. Kami sholat di ruang terbuka di depan pintu masuk candi karena memang tidak ada musholla di sana. Setelah sholat, kami menuju ke pintu masuk candi untuk diperiksa tiket kami sekali lagi kemudian segera masuk ke area candi untuk mencari tempat yang paling oke untuk melihat matahari terbit. Karena waktu itu pengunjung sangat ramai, kami kesulitan untuk menemukan tempat.

dscn2057

Setelah mondar mandir sana sini, akhirnya kami menemukan tempat yang lumayan nyaman dan optimal untuk melihat matahari terbit. Kami menunggu sambil menyiapkan kamera kami untuk menangkap momen yang tepat. Beberapa pengunjung juga sudah menyiapkan peralatan-peralatan yang sepertinya canggih dan berat. Lama menunggu, matahari yang ditunggu belum muncul dari cakrawala padahal jam di tangan saya menunjukkan pukul 05.31. Saya lihat di jadwal bahwa matahari terbit pada hari itu pada pukul 05.27. Tetapi saya perhatikan langit sedikit-sedikit mulai terang. Rona ungu mulai terlihat di langit menggantikan gelapnya malam. Sepertinya matahari sudah muncul.

dscn2073

Awan sudah mulai terlihat tebal menutupi cakrawala. Sepertinya cuaca sedang tidak pas untuk melihat matahari terbit. Kami dan pengunjung lain pun segera beranjak dari tempat itu. Ada yang menuju ke warung, ada yang ke toilet, ada yang ke dalam area candi, dan ada juga yang kembali ke hotel. Beberapa pengunjung juga masih ada yang bertahan sambil membidik kameranya ke arah candi. Sedangkan kami kembali menuju ke Pak Kumis kemudian kembali ke hotel karena kami sudah mengunjungi Angkor Wat pada hari sebelumnya.

Iklan

38 thoughts on “Gagal Sunrise di Angkor Wat

  1. gw juga waktu ke sana langitnya rada keunguan. tapi pas lama lama mataharinya nongol bulet dari kolam yang ada teratainya.. konon di wkt tertentu matahari bakal terbit pas di belakanh wat angkor

  2. Wah, kalo berburu Sunrise atau Sunset begini memang butuh keberuntungan sendiri ya.. Saya pernah ke Angkor Wat ini, dan butuh 2 hari berturut turut demi cari cuaca yang bagus. Eh itu pun msh kurang bersih langitnya 😀

  3. Foto dengan rona keunguan dan nuansa pink di Angkor wat itu sudah bagus heheh menurut saya sih.

    Ah gpplah mungkin lain kali bisa dapet sunrise, toh angkor wat juga gak melulu tentang sunrisenya 😁

  4. Pak Kumis nggak ada potonya?
    Btw cerita ini mengingatkanku saat gagal sunrise di Candi Borobudur juga. Rasanya nyesek. Nah, dari situ selalu cek ramalan cuaca dulu kaau mau ngejar sunrise atau sunset.

  5. Jadi traveler itu emang harus pinter-pinter menentukan motivasi yang lebih berfaedah daripada sekadar sunrise atau puncak ya. Supaya kalau gagal, kita nggak malah dongkol dan akan tetep bersyukur. Sunrise, sunset, puncak, setiap keindahan adalah bonus 🙂

    Btw saat aku ke Angkor Wat, aku tahu kapasitas diri dan nggak memaksakan lihat sunrise. Bangun siang, dan sampai di candi segar bugar cukup tidur 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s