Karena bosan menunggu saat transit selama 9 jam lebih di Bandara Internasional Dubai, saya bersama dengan dua orang teman saya memutuskan untuk keluar Bandara. Karena waktunya juga memungkinkan untuk mengeksplorasi kota Dubai (tiba dari Jakarta pukul 05.30 dan penerbangan berikutnya pukul 15.00), maka kami manfaatkan saja kesempatan ini. Sebelum keluar, kami menukar uang dahulu di Travelex ke Dirham UAE (AED; 1 AED sekitar Rp3.600). Bandara Internasional Dubai terhubung dengan stasiun Metro. Metro merupakan salah satu moda transportasi massa berbasis rel yang dimiliki oleh kota Dubai. Sampai Desember 2016, Dubai baru dilayani oleh dua line Metro. Kalau Hong Kong punya Octopus Card dan London punya Oyster Card, maka Dubai punya Nol Card. Nol Card merupakan smart card yang dapat digunakan untuk berbagai jenis moda transportasi di Dubai. Tetapi karena kami merupakan visitor dan bukan frequent traveler di Dubai, saya hanya menggunakan Nol Red Ticket ketika disana.

Setelah sarapan di kawasan Deira, kami mengunjungi bangunan tertinggi di Dubai yang juga merupakan bangunan tertinggi di dunia pada saat itu (September 2016). Yup, betul sekali, tujuan kami kali ini ialah Burj Khalifa. Kalau saya lihat di Wikipedia, Burj Khalifa memiliki ketinggian 829,8 meter dan memegang beberapa rekor dunia antara lain bangunan tertinggi di dunia, bangunan dengan lantai terbanyak, dan instalasi lift tertinggi di dunia. Terdapat dua observation deck yang bisa dikunjungi yaitu pada lantai 124-125 dan lantai 148. Observation deck tersebut bernama at the top dan dapat diakses dari Dubai Mall. Untuk menuju ke lantai 124-125, pengunjung dikenakan biaya AED 125 per orang. Sedangkan untuk ke lantai 148, biaya yang  harus dikeluarkan relatif lebih besar yaitu 500 dirham. Pada saat membeli tiket, mbak penjual tiket bertanya kepada saya, “are you Filipino?”. “No, Indonesia”, jawabku. Saya tebak mbak itu juga berasal dari Filipina karena wajahnya yang mirip seperti orang Asia Tenggara pada umumnya. Setelah membeli tiket, saya pun disambut oleh petugas keamanan asal Filipina yang memeriksa barang bawaan saya sebelum masuk ke at the top. Dari mana saya bisa tahu kalau petugas keamanan tersebut berasal dari Filipina? Karena saya bertanya padanya.

img_0710

Selanjutnya kami mengikuti petunjuk jalan yang memandu kami menuju lift. Sambil jalan, saya mengobrol dengan teman saya mengenai banyaknya tenaga kerja asal Filipina di Dubai. Setelah saya baca lebih jauh, ternyata lebih dari seperlima populasi penduduk di Dubai merupakan tenaga kerja asal Filipina. Burj Khalifa sendiri pada saat pembangunannya banyak dikerjakan oleh tenaga kerja asal Asia Tenggara khususnya Filipina. Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya kami sampai juga di lift yang akan mengangkut kami menuju lantai 124. Lift di Burj Khalifa merupakan salah satu lift tercepat di dunia dengan kecepatan 10 meter per detik. Itu berarti untuk menuju ke lantai 124 dengan ketinggian 452 meter hanya membutuhkan waktu sekitar satu menit saja.

img_0711

Sesampainya di lantai 124, kami disambut dengan pemandangan kota Dubai dari ketinggian. Di lantai ini terdapat platform untuk melihat keseluruhan Dubai dan juga Teluk Persia. Di lantai ini juga terdapat toko suvenir yang menjual berbagai macam merchandise khas Dubai. Kami lalu menuju ke balkon untuk merasakan udara kota Dubai. Begitu sampai di luar udara panas langsung terasa. Ya, Dubai memang panas karena memang terletak di gurun. Panasnya melebihi Jakarta pada jam 2 siang padahal di Dubai baru menunjukkan jam 10 pagi.

dsc_5042

img_0724

img_0727

Yang paling menarik perhatian saya di lantai ini yaitu teleskop elektronik yang memungkinkan kita untuk melihat Dubai lebih dekat. Terdapat empat mode yang disediakan oleh teleskop tersebut. Mode real-time untuk melihat keadaan saat itu, mode siang untuk melihat Dubai pada saat siang hari, mode malam untuk melihat Dubai pada saat malam, dan mode sejarah untuk melihat Dubai sebelum berkembang menjadi seperti sekarang. Berdasarkan penjelasan dari guide, melihat matahari terbenam merupakan hal yang sangat menarik untuk dilakukan di sini. Saking tingginya, kita dapat melihat dua kali matahari terbenam dalam satu hari. Apabila kita telah selesai menyaksikan matahari terbenam dari lantai 124, kita dapat menuju ke lantai 148 untuk melihat matahari terbenam kedua kalinya.

Iklan

47 thoughts on “Melihat Dubai dari Ketinggian 452 m

  1. Entah kenapa bagiku Dubai kesan kotanya menakutkan bukan menakjubkan…!*efek paling takut dengan ketinggian*

    nggak kebayang gimana gemetaran berada di lantai 124, dulu ngantor di lantai 26 aja suka deg-degan klo lihat ke kaca jendela.

    Cukuplah paling tinggi berada di atas pesawat. hehehe

    *aku masih iri dengan postingan San Siro… fix -_-

      1. Iya kali ya… dan juga mereka kerja jauuh lebih tekun dari orang kita. Lebih gesit. Saya dengar langsung dari orang pilipina di Jakarta yang dulu pernah jadi menejer hospitality…

  2. Traveler yang cerdik masih begitu ya Mas, memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Tapi memang tidak sia-sia usahanya, tapi memang tidak sia-sia usahanya, melihat Dubai dari ketinggian, sungguh mempesona

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s