Hari terakhir saya di Bangkok bertepatan dengan tanggal 31 Desember. Sudah saatnya untuk kembali ke Indonesia. Saya mengambil penerbangan Malaysia Airlines ke Kuala Lumpur pukul 6 pagi keesokan harinya kemudian melanjutkan ke Pekanbaru menggunakan AirAsia. Bangkok sendiri dilayani oleh dua Bandar Udara yaitu Bandar Udara Internasional Don Mueang (DMK) di utara dan Bandar Udara Internasional Suvarnabhumi (BKK) di timur. Bandara Internasional Don Mueang merupakan bandara tertua di Asia yang saat ini kebanyakan melayani penerbangan domestik dan LCC. Sedangkan Bandara Internasional Suvarnabhumi baru dibuka pada tahun 2006 melayani penerbangan internasional dan merupakan hub bagi Thai Airways.

Untuk menuju ke Bandara Internasional Suvarnabhumi, ada beberapa pilihan transportasi, antara lain taksi, ojek, dan yang paling ekonomis yaitu menggunakan Airport Rail Link. Airport Rail Link merupakan moda transportasi seperti MRT yang menghubungkan antara Bandara Internasional Suvarnabhumi dengan pusat kota Bangkok. Terdapat dua line yaitu express line dan city line. City line bermula dari stasiun Phaya Thai dan berakhir di Bandara Internasional Suvarnabhumi. Kereta tersedia mulai pukul 6 pagi sampai 12 malam setiap harinya. Karena hanya sampai malam hari, saya pun berangkat ke stasiun Phaya Thai dari Khao San Road pada sore hari. Di stasiun, saya langsung membeli token untuk naik kereta seharga 90 baht untuk sekali jalan.

img_0616

Sesampainya di stasiun Bandara, saya langsung menuju ke lantai 3 dimana terdapat musholla. Bandara ini sendiri terdiri dari satu terminal yang sangat besar yang terdiri dari empat lantai. Lantai dasar langsung terhubung dengan stasiun Airport Rail Link. Lantai 2 untuk kedatangan dan lantai 4 untuk keberangkatan. Sementara di lantai 3 terdapat musholla dan restoran. Info tambahan, menara kontrol di bandara ini juga pernah menjadi yang tertinggi di dunia.

Karena counter check-in penerbangan yang saya naiki baru dibuka pada jam 3 pagi, saya pun berniat menunggu di musholla sampai pagi. Ketika jam makan malam tiba, saya pun kebingungan mencari makan karena di lantai 3 tidak ada penjual makanan halal. Saya kemudian membeli buah-buahan dan air putih saja sebagai ganjal perut. Sebenarnya ada restoran yang menjual makanan halal di bandara ini. Tetapi letaknya di ruang tunggu, artinya saya hanya bisa kesana setelah cek in. Setelah sholat isya, banyak official bandara yang beristirahat di musholla. Sebenarnya di musholla terdapat larangan tidak boleh makan dan tidur di musholla. Tetapi karena para official tersebut ada yang makan dan tidur, bahkan ada yang membawa bantal dan selimut, saya juga ikut-ikutan tidur di musholla sambil menunggu penerbangan saya.

Pukul 3 pagi, saya segera ke lantai 4 untuk cek in. Setelah melewati pemeriksaan keamanan, sisi lain bandara ini mulai terlihat. Bandara ini memadukan kebudayaan dan modernitas. Patung-patung dan gambar menghiasi beberapa sudut bandara yang full-automatic. Di ruang tunggu, selain banyak terdapat restoran dan toko duty free, terdapat juga komputer yang menyediakan internet gratis seperti di Singapore Changi Airport. Selain itu, pintu untuk masuk ke tiap gate juga terbuka dan tertutup secara otomatis menyesuaikan dengan jadwal yang tertera di boarding pass.

img_0619

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s