Setelah berkeliling di Intramuros dan Rizal Park, perut saya sudah terasa lapar. Setelah saya tengok jam di tangan saya, ternyata jarum jam sudah hampir menuju angka 12. Sudah saatnya bagi saya untuk sholat dan makan siang. Berdasarkan hasil browsing, masjid terbesar di Manila yaitu Masjid Al-Dahab atau biasa disebut Manila Golden Mosque yang terdapat di distrik Quiapo. Dari Rizal Park, saya menyetop taksi untuk mengantarkan saya ke Manila Golden Mosque. Karena jalanan menuju masjid sangat ramai seperti pasar, supir menurunkan saya di pinggir jalan besar. “Just follow this road“, katanya sambil menunjuk ke arah keramaian pasar.

Setelah beberapa langkah, terdengar suara adzan yang cukup dekat. Saya langsung berpikir suara adzan tersebut berasal dari Manila Golden Mosque. Tetapi setelah saya ikuti sumber suara, saya malah sampai di depan sebuah bangunan yang lebih mirip pasar (atau memang sebenarnya bangunan tersebut adalah pasar). Terdapat megaphone yang mengumandangkan suara adzan tergantung di depan salah satu toko. Saya bertanya kepada salah seorang penjaga toko yang merupakan seorang ibu yang memakai jilbab, “where is that voice coming from?“, tetapi yang ditanya malah tampak kebingungan. Saya segera menirukan gerakan seperti seseorang melakukan sholat. Ibu tersebut menunjuk ke atas kemudian menunjukkan tiga jarinya. Mungkin maksudnya di lantai tiga atau naik tiga lantai. Kemudian saya pun menaiki tangga yang terletak tidak jauh dari toko ibu tadi. Sambil meniti anak tangga saya berpikir, masa’ masjid terbesar di Manila terletak di atas sebuah pasar. Sesampainya di lantai paling atas, saya menemukan sebuah ruangan yang cukup luas dengan beberapa sendal terparkir di depan pintu ruangan. Memasuki ruangan tersebut saya bertemu dengan satu orang muadzin yang baru selesai mengumandangkan adzan dan dua orang jama’ah lainnya yang sedang duduk.

IMG_1038

IMG_1037

Saya berpikir lagi, masjid terbesar di Filipina hanya seluas ini dan jama’ahnya cuma tiga orang di waktu dzuhur?? Saya pun segera mengambil air wudhu dan mengikuti sholat berjama’ah. Selesai sholat, saya bertanya kepada salah seorang jama’ah, “is this Golden Mosque?“, jama’ah tersebut menjawab, “no, Golden Mosque is over there” sambil menunjuk ke arah luar. Ternyata tempat saya sholat barusan bukan merupakan Golden Mosque. Setelah berpamitan dengan para jama’ah, saya pun segera mengikuti jalan yang dimaksud oleh salah satu jama’ah tadi. Di jalan saya banyak menemukan penjual makanan halal yang kebanyakan merupakan makanan khas Melayu. Saya mampir ke salah satu rumah makan dan segera duduk di salah satu tempat setelah memesan makanan. Tepat di sebelah tempat saya duduk, terdapat satu keluarga yang sedang mengobrol dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Tak lama kemudian, pramusaji mengantarkan makanan yang saya pesan. Meskipun saya cuma memesan satu porsi nasi, tetapi tetap diantarkan dua porsi. Setelah menyajikan makanan, pramusaji bertanya kepada saya, “dari mane?”, “Indonesia”, jawab saya. “Itu juga dari Indonesia”, sahutnya lagi sambil menunjuk ke arah keluarga yang sedang mengobrol menggunakan Bahasa Indonesia tadi. Saya pun tersenyum dan mereka membalas senyuman saya. Mereka kemudian bertanya, “Kapan datang?”, “Kemarin”, jawab saya. “PAL atau Cebu?”, lanjutnya, “PAL”, jawab saya lagi. Kemudian kami mengobrol dengan santai sampai saya selesai menghabiskan santap siang saya.

IMG_1040

Selesai makan, saya melanjutkan perjalanan menuju ke Golden Mosque. Tak lama berjalan kaki akhirnya saya sampai di Golden Mosque. Masjid ini disebut Golden Mosque selain karena kubahnya yang dicat emas juga karena terletak di jalan Globo de Oro. Mulai dibangun pada tahun 1976 untuk menyambut kedatangan pemimpin Libya pada saat itu. Masjid ini juga diperkirakan dapat menampung sekitar sepuluh ribu jama’ah. Pada saat saya datang kesana, suasana masjid cukup ramai di pelataran tetapi agak sepi di dalam. Hanya ada beberapa orang yang sedang tidur-tiduran di dalam masjid.

IMG_1041

DSC_0212

Sesampainya di masjid, saya langsung bersiap untuk mengambil air wudhu. Tiba-tiba saya didekati oleh seseorang yang mengaku sebagai caretaker masjid tersebut. Dengan Bahasa Inggris yang fasih, beliau bercerita mengenai masjid dan sedikit kisah hidupnya setelah bertanya dari mana saya berasal. Beliau bercerita kalau istrinya berasal dari Kalimantan, sementara beliau berasal dari daerah Filipina Selatan. Sesaat setelah beliau beranjak pergi, saya segera melanjutkan mengambil wudhu kemudian melaksanakan sholat. Selesai sholat, beliau mendatangi saya lagi. Setelah mengajak ngobrol panjang lebar beliau meminta uang kepada saya untuk maintenance masjid. Karena untuk maintenance masjid, saya segera mengeluarkan selembar 500 peso dari dompet saya. Sebelum beranjak pergi, beliau memanggil salah seorang temannya kemudian mengenalkan kepada saya kalau temannya itu adalah salah satu muadzin di masjid tersebut. Muadzin itu kemudian mengajak ngobrol saya dan akhirnya meminta uang lagi kepada saya. Saya pun segera mengambil dompet dengan niat memberi sekitar 10 atau 50 peso. Ternyata setelah menengok isi dompet yang tersisa hanya pecahan 500 peso. Karena sudah terlanjur mengeluarkan dompet, terpaksa saya memberikan selembar 500 peso kepada muadzin tersebut. Sebelum muadzin tersebut beranjak, beliau memperkenalkan saya lagi kepada temannya yang lain yang merupakan muadzin juga. Perasaan saya sudah mulai tidak enak. Beruntung muadzin tersebut tidak pandai berbahasa Inggris, sehingga beliau hanya berkata “gift.. gift…“. Sebenarnya saya sudah tau maksudnya tetapi saya pura-pura tidak mengerti. Sambil berkata “I’m sorry“, saya segera beranjak pergi dan melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya.

Iklan

13 thoughts on “Scam atau Sedekah?

  1. Waduh, itu sih scam berantai. Hampir mirip dengan yang di Bangkok, mereka bilang kalau mereka berasal dari Kashmir, modusnya hampir dan sayangnya dibiarkan saja oleh petugas masjid yang bersangkutan.

  2. Asli keknya itu scammer. Kalo mesjid bukannya pengurusnya sudah ada biaya dari jamaah sendiri untuk pengurusan masjidnya ya.. kalopun mau nyumbang kan bisa dibuatin kotak sumbangan diletak di masjid gitu. Biasanya kan masjid di Indonesia pada umumnya ada kotak amal buat yang mau nyumbang gitu tanpa ada paksaan. Itu kesannya memang memaksa sih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s