Ketika saya akan membeli tiket bus ke Phnom Penh, pegawai Hahn Cafe pun bingung karena belum pernah mendengar “pnompen” sebelumnya. Ternyata saya baru tahu kalau Phnom Penh itu dibaca “nomben”. Singkat saja, saya mendapatkan tiket bus ke Phnom Penh pada pukul 12 malam waktu setempat. Saya lupa harga tiket busnya tetapi bus yang saya naiki merupakan sleeper bus yang saya kira nyaman untuk tidur. Sebelum naik bus, kami diberikan kartu kedatangan dan keberangkatan dari Kamboja yang harus diisi sebelum memasuki Kamboja. Tepat pukul 12 malam, bus datang dan kami pun segera naik ke bus. Bus terdiri dari dua tingkat, bagian bawah untuk barang dan bagian atas untuk penumpang. Tetapi saya tetap membawa tas saya ke bagian atas bus.

Namanya saja sleeper bus, di bus itu pun para penumpang hanya bisa tidur, tidak bisa duduk karena clearance-nya memang tidak terlalu tinggi. Sayangnya lagi supir bus tidak bisa berbahasa Inggris, sehingga agak sulit untuk berkomunikasi dengannya. Sekitar pukul 03.00 kami tiba di Moc Bai, perbatasan Vietnam dan Kamboja. Karena perbatasan baru dibuka pada pukul 06.00, maka kami harus menunggu selama sekitar tiga jam.

IMG_0338
Interior Sleeper Bus
IMG_0339
Sleeper Bus

Hal yang saya khawatirkan terjadi. Menjelang pagi, perut saya mulai terasa bergejolak. Saya pun segera bertanya kepada supir bus dimana toilet terdekat. Tetapi supir bus hanya menunjuk keluar sambil mengucapkan sesuatu yang tidak saya mengerti. Saya pun keluar dari bus dan hanya kegelapan yang menyambut saya. Tak jauh dari tempat bus berhenti, terdapat sebuah pondok dengan cahaya senter yang berkelap-kelip. Saya pun mendekati pondok tersebut berharap ada toilet disana. Tetapi saya malah disambut dengan lolongan anjing yang semakin lama semakin keras. Tanpa pikir panjang saya pun menjauhi tempat tersebut. Seorang teman saya pun ikut turun dan untungnya membawa tisu basah. Karena sudah tidak tertahankan lagi, saya minta tisu basah dari teman saya kemudian saya melakukannya di semak-semak di pinggir jalan. Mumpung masih gelap sehingga tidak ada orang yang melihat.

DSCN1124

Pukul enam tepat, perbatasan pun dibuka. Saya pun kembali ke bus dan melanjutkan perjalanan memasuki pos pemeriksaan imigrasi di Moc Bai. Setelah paspor saya selesai dicap keluar Vietnam, kami melanjutkan perjalanan ke pos pemeriksaan imigrasi di Bavet, Kamboja. Disini kartu kedatangan saya diambil dan paspor saya dicap masuk Kamboja. Setelah semua penumpang selesai dicap paspornya, kami pun kembali ke bus dan melanjutkan perjalanan ke Phnom Penh. Saat memasuki Kamboja, perbedaan mulai terasa. Kamboja sepertinya memang sangat tertinggal dibandingkan negara ASEAN lainnya, terutama Indonesia. Jalannya masih banyak yang harus diperbaiki dan infrastruktur jembatan pun belum memadai. Kami harus naik feri kecil untuk menyeberangi sebuah sungai.

IMG_0353
Memasuki Perbatasan Kamboja

Pukul 12 siang, kami pun tiba di Phnom Penh. Ternyata sudah ada pengendara tuk-tuk yang menyambut saya sambil melambaikan secarik kertas bertuliskan nama saya. Ternyata travel agent di Vietnam tempat saya memesan tiket bus juga sudah memesankan tuk-tuk untuk saya berkeliling Phnom Penh. Saya lupa nama pengendara tuk-tuk tersebut, tetapi dia biasa dipanggil Thi. Thi kemudian mengantarkan kami ke Pacific Hotel Phnom Penh yang telah kami pesan juga melalui Hahn Cafe. Sesampainya di hotel, saya berpesan kepada Thi agar menjemput kami di hotel satu setengah jam kemudian. Kami pun mandi dan bersiap-siap untuk menjelajahi kota Phnom Penh.

Iklan

16 thoughts on “Bermalam di Moc Bai (Perbatasan Vietnam – Kamboja)

  1. Kalau “sekadar” mules masih bisa diatasi. Aku pernah tuh perjalanan saat kena diare. Huaaa tersiksa lahir batin. Perut gak enak banget, perjalanan jauh pake kendaraan umum. Kalo mobil pribadi kan bisa ya berhenti hahaha. Kapoook.

  2. Hahahahaha ya ampunnn cepirit di semak-semak :))
    Btw, baru tahu kalau pengucapannya Nomben. Dulu juga naik sleeper bus dari Vietnam ke Kamboje, tapi enak keneknya bisa ngomong bahasa Inggris sambil ngelucu pake microphone.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s