Sekitar pukul 20.30 WIB, kami sampai di Pantai Balekambang setelah perjalanan dari Bromo. Kami sempat ragu apakah jalan yang kami lalui memang menuju ke Pantai Balekambang. Karena jalan yang kami lalui tersebut sangat sepi, sempit, berliku-liku, dan gelap. Sesampainya di pintu masuk pantai, mulai terdengar suara jedak-jeduk musik dangdut koplo yang diputar dari beberapa mobil truk bermuatan sound system raksasa yang sedang parkir. Tampak juga beberapa pemuda bertelanjang dada sedang asyik berjoget mengikuti irama musik.

IMG-20130810-00075
Mobil truk bermuatan sound system

Tidak ada sinyal GSM yang bisa sampai ke pantai ini. Jangankan check in foursquare atau upload foto di instagram, telepon dan SMS saja tidak bisa. Tempat yang sangat cocok untuk retreat menikmati keindahan alam tanpa terganggu oleh dunia luar. Kami langsung menuju penginapan Pondok Bambu di kawasan pantai yang telah kami bookingsebelumnya dengan harga Rp100.000,00 per kamar per malam. Banyak juga pengunjung pantai yang mendirikan tenda di tepi pantai. Sesampainya di kamar, saya langsung mengambil posisi untuk tidur memulihkan tenaga setelah hiking di Bromo. Bangun pagi, saya pun langsung disambut dengan pemandangan pantai dan angin laut yang segar. Ternyata pantai ini juga memiliki pura di atas pulau batu kecil yang terletak sekitar 100 meter dari bibir pantai, tidak jauh berbeda dengan Tanah Lot di Bali. Di pulau batu ini juga terdapat flying fox untuk menuju ke pantai.

IMG_4106
Pantai Balekambang
IMG_4111
Pura di atas batu karang

Seperti pantai-pantai di pesisir selatan Pulau Jawa, Pantai Balekambang memiliki arus yang deras dan ombak yang besar. Tak sedikit korban yang terbawa arus dan masih belum ditemukan hingga sekarang. Pantai ini tidak memiliki karang seperti pantai di Gunungkidul, sehingga ombak bisa langsung menerpa kaki anda. Semakin siang, pengunjung pun semakin ramai berdatangan. Pengunjung yang datang kebanyakan menggunakan sepeda motor. Mobil truk yang bermuatan sound system pun semakin bertambah. Pukul 11.00 WIB kami pun melanjutkan perjalanan menuju Turen. Di Turen, rumornya terdapat sebuah Masjid yang didirikan oleh jin. Menurut cerita yang berkembang di media, termasuk pernah ditayangkan di On the Spot, Masjid ini muncul secara tiba-tiba. Kami pun penasaran ingin membuktikannya.

Sekitar 1 jam perjalanan dan sempat tersesat, kami pun menemukan Masjid yang dimaksud. Masjid ini terletak di tengah-tengah perkampungan. Akses menuju Masjid ini pun merupakan sebuah gang sempit yang hanya bisa dilewati oleh satu mobil saja. Tak disangka-sangka, ditengah perkampungan terdapat sebuah bangunan yang megah, tinggi, dan berwarna-warni.

IMG_4118
Pintu gerbang depan

Setelah mengamati dan bertanya pada pengunjung lainnya, ternyata bangunan yang kami kira Masjid tersebut merupakan sebuah pondok pesantren. Nama pondok pesantren tersebut cukup panjang, yakni Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah atau disingkat Ponpes Bi Ba’a Fadlrah.  Rupanya desas desus mengenai Masjid yang dibangun oleh jin itu tidak benar, karena menurut “orang dalam”, bangunan tersebut dibangun oleh para santri jamaah secara bertahap dan transparan.  Bantahan dari “orang dalam” itu jelas sekali terpampang di depan meja penerima tamu dengan tulisan besar-besar, “Apabila ada orang yang mengatakan bahwa ini adalah pondok tiban (pondok muncul dengan sendirinya), dibangun oleh jin dsb., itu tidak benar. Karena bangunan ini adalah Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah yang murni dibangun oleh para santri dan jamaah”. Tidak ada biaya masuk atau sumbangan apapun untuk memasuki Ponpes ini, hanya ada beberapa kotak sumbangan sukarela untuk biaya listrik dan perawatan saja. Pengunjung wajib melaporkan diri apabila memasuki kawasan Ponpes untuk mendapatkan karcis masuk yang akan diserahkan kembali di pintu keluar.

IMG_4122
Salah satu sudut pondok pesantren

Menurut saya, secara sepintas bangunan Ponpes tersebut mirip seperti perpaduan antara Capitol Building dengan Kuil Hindu di India. Tetapi dengan warna-warni yang lebih beraneka ragam. Beberapa bagian Ponpes pun masih ada yang sedang dalam tahap pembangunan. Di dalam kawasan Ponpes pun terdapat beberapa kantin yang menjual berbagai makanan yang dikelola oleh para santri. Karena belum makan siang, kami pun memesan nasi rawon di kantin Ponpes. Harganya pun relatif murah, hanya sekitar Rp15.000,00 per porsi.

Hari sudah menjelang sore dan keesokan harinya saya sudah harus kembali ke Pekanbaru melalui Bandara Juanda di Surabaya. Sekitar pukul 17.00 WIB, saya pun diantar oleh keluarga saya ke Terminal Arjosari di Kota Malang untuk mengejar bus yang akan mengantar saya ke Kota Surabaya. Hari itu jalanan di Kota Malang sedang padat-padatnya. Puncak arus balik ditambah para Aremania yang konvoi di jalan utama jadi penyebabnya. Bus patas yang saya tumpangi pun bergerak lambat diantara kendaraan lainnya. Hampir tiga jam waktu yang saya butuhkan untuk keluar dari kota ini. Sekitar pukul 22.00 WIB saya sampai di Terminal Bungurasih, Surabaya. Normalnya, perjalanan hanya ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam. Sesampainya di terminal, saya langsung menyetop taksi untuk mengantarkan saya ke hotel Inna Simpang di pusat kota Surabaya yang letaknya dekat dengan Grahadi. Hotel ini memiliki fasilitas yang lengkap dan mewah. Tak heran harganya pun cukup tinggi, yaitu Rp585.000,00 per malam untuk kamar kelas superior.

Selesai check in dan menaruh barang di kamar, saya berjalan menuju taman kota yang terletak di depan Grahadi. Meskipun sudah malam, masih banyak muda mudi berkumpul di taman ini. Kalau saya perhatikan, mungkin mereka termasuk ke dalam komunitas tertentu. Karena perut belum diisi sejak siang, saya pun membeli semangkuk bakso dan segelas es kelapa yang dijual di taman. Lumayan buat mengisi perut saya yang kosong. Tidak jauh dari Grahadi, terdapat sebuah gedung bersejarah yang dilindungi oleh Pemerintah Kota Surabaya. Balai Pemuda yang dahulu merupakan tempat rekreasi milik orang Belanda kini berfungsi sebagai tempat pembinaan seniman dan juga tourism center. Pernah juga menjadi markas PRI (Pemuda Republik Indonesia) dan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia). Meskipun sudah malam, tetapi pintu gerbang Balai Pemuda masih terbuka. Tetapi hanya pintu gerbangnya saja yang terbuka, karena jam operasional hanya sampai sore hari. Saya pun berfoto sebentar di depan Balai Pemuda sebelum istirahat malam hari.

IMG_4126
Balai Pemuda

Keesokan harinya, saya menjelajahi Kota Surabaya dengan menggunakan sepeda motor. Saya sengaja sarapan sedikit saja di hotel agar terdapat ruang untuk kuliner Surabaya. Tujuan pertama yaitu Jalan Walikota Mustajab yang banyak terdapat penjual sate klopo (sate kelapa). Meskipun namanya sate klopo, tetapi bukan daging buah kelapa yang dijadikan sate, melainkan daging ayam dan sapi. Kelapa hanya dijadikan sebagai tambahan bumbu sebelum dibakar. Untuk penyajiannya, sate klopo dipadukan dengan bumbu kacang yang ditambahkan dengan cabai rawit utuh dan bawang merah. Saat disantap, parutan kelapa memberikan sensasi gurih yang berbeda dengan sate lainnya. Sangat nikmat dimakan dengan lontong atau nasi.

IMG-20130812-00077
Sate klopo

Tujuan saya ke Surabaya bukan hanya untuk mencicipi kulinernya. Tempat menarik dan bersejarah juga masuk ke dalam itinerary saya. Tujuan saya kali ini yaitu House of Sampoerna yang ditempuh sekitar 15 menit dari pusat kota. Dalam perjalanan, saya sempat melihat sekilas lalu lintas dan tata kota Surabaya yang merupakan kota terbesar kedua di Indonesia. Menurut saya, kota ini memiliki tata kota yang baik dan rapi. Hampir tidak ada kemacetan meskipun volume kendaraan lumayan padat. Di Surabaya juga banyak terdapat lampu lalu lintas untuk menyeberang jalan dan juga terdapat salah satu jalan yang kendaraannya melaju di sebelah kanan, seperti di Eropa dan Amerika. Sedangkan House of Sampoerna sendiri dulunya merupakan pabrik rokok pertama milik dinasti Sampoerna. Sekarang bangunan berlantai dua ini menjadi museum yang selain sarat akan nilai seni, budaya, dan sejarah, juga memberikan kenyamanan bagi pengunjungnya. Museum ini berisi koleksi kesenian dan benda-benda penting dalam sejarah Sampoerna. Di museum ini anda juga bisa melihat pembuatan rokok kretek secara tradisional. Tetapi karena masih suasana libur, maka para pegawai pembuat rokok kretek pun sedang libur. Satu hal lagi yang tak kalah penting, tidak ada tiket masuk untuk memasuki museum ini. Anda dapat menikmati kemewahan dan kenyamanan museum ini secara gratis.

Puas mengeksplorasi museum, saya kemudian melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya, yaitu Masjid Cheng Ho. Masjid yang menyerupai kelenteng ini terletak di Jalan Gading, Ketabang, Genteng, sekitar 1 km sebelah utara Gedung Balaikota Surabaya. Masjid Cheng Ho atau juga biasa disebut Masjid Muhammad Cheng Hoo ini berdiri di areal komplek gedung serbaguna PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia). Didominasi oleh warna merah, kuning, dan hijau dengan ornamen nuansa Tiongkok lama. Sekilas tampak seperti pagoda dengan beduk di sisinya.

IMG_4181
Masjid Cheng Ho
IMG-20130812-00078
Lontong Balap

Hari sudah menjelang siang, berarti kunjungan saya ke Surabaya kali ini hanya tinggal sebentar lagi. Masih ada satu hal lagi yang harus saya lakukan, yaitu mencicipi kuliner legendaris Surabaya, lontong balap. Menurut teman saya, lontong balap terenak terdapat di Depot Lontong Balap Cak Gendut di Jalan Prof Dr Moestopo. Tanpa menunggu lama langsung saja kami menuju kesana. Karena warung tersebut baru saja buka, maka kami harus menunggu agak lama sampai pesanan kami jadi. Lontong balap terdiri dari irisan lontong, tahu, dan lentho kemudian diatasnya diberi kecambah yang sangat banyak. Setelah itu disiram kuah secukupnya, sambal dan kecap sesuai selera pembeli. Sebagai pelengkap, tak lupa kami pesan beberapa tusuk sate kerang sebagai pasangan lontong balap. Selesai makan, waktu tepat menunjukkan pukul 11.30 WIB. Saya pun kembali ke hotel, check out, kemudian memesan taksi menuju Bandara Juanda.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s