Bukittinggi adalah salah satu kota di provinsi Sumatera Barat yang terletak di dataran tinggi Minangkabau, 90 km dari kota Padang. Kota ini terkenal sebagai kota wisata yang sejuk karena terletak di dekat dua gunung, yaitu Gunung Singgalang dan Gunung Marapi. Selain Kota Medan, Bukittinggi juga pernah dijuluki sebagai Paris van Sumatra. Karena tertarik dengan cerita-cerita mengenai keindahan alam Kota Bukittinggi, saya mengajak lima orang teman saya untuk berwisata ke kota ini.

Kami berangkat dari Kota Pekanbaru pukul 23.00 WIB dengan menggunakan travel (minibus sewaan dari CV. BMW 2000) dengan harga Rp450.000,00 per mobil (termasuk supir dan BBM) untuk sekali jalan. Sekitar pukul 04.00 WIB kami tiba di batas kota Bukittinggi. Perhentian pertama kami yaitu toko oleh-oleh sekaligus tempat istirahat. Kami melakukan pembersihan badan, sholat subuh, dan istirahat sejenak. Perjalanan dilanjutkan pukul 06.00 WIB menuju Ngarai Sianok. Kami turun di dasar ngarai tepatnya di perbatasan Kota Bukittinggi dengan Kecamatan Sianok VI Suku, Kabupaten Agam. Sebenarnya tujuan pertama kami adalah Taman Panorama untuk melihat Ngarai Sianok, tetapi karena salah pengertian, supir travel menurunkan kami di dasar ngarai. Justru karena hal itu, kami malah bisa menikmati indahnya pemandangan ngarai yang dilihat dari dasar ngarai beserta sejuknya udara lembah dan jernihnya Batang Sianok (Batang berarti sungai dalam bahasa Minangkabau). Setelah mengambil foto dan menikmati segarnya udara pagi di dasar lembah, kami melanjutkan perjalanan ke arah Kota Bukittinggi dengan menumpang mobil bak terbuka yang menuju ke arah kota.

Hal pertama yang kami lakukan setelah turun dari mobil yaitu mencari sarapan. Kebetulan di pinggir jalan tempat kami turun ada rumah makan “Pical Ayang”, kami singgah untuk istirahat dan sarapan. Menu yang disajikan pun beragam, antara lain lontong pecel, sup daging, bandrek, dan bubur asli Bukittinggi, bubur kampiun. Harga makanan-makanan yang dijual di rumah makan tersebut berkisar antara Rp10.000-15.000 per porsi. Setelah sarapan, kami melanjutkan perjalanan kami dengan berjalan kaki ke Taman Panorama dan Lobang Jepang.

Taman Panorama merupakan sebuah spot yang nyaman untuk menikmati keindahan Ngarai Sianok yang terbentang sepanjang 15 km dengan lebar sekitar 200 m sambil bersantai menikmati udara yang sejuk. Tarif masuk ke Taman Panorama Rp3.000 per orang. Di kawasan ini juga terdapat terowongan (lubang) dengan banyak lorong dan kamar yang dibangun oleh tentara Jepang pada masa pendudukannya di Indonesia. Oleh karena itu, terowongan ini disebut Lobang Jepang. Untuk memasukinya, siapkan Rp5.000 per orang, tetapi belum termasuk biaya guide. Apabila masuk ke Lobang Jepang, disarankan disertai dengan guide. Biaya guide berkisar antara Rp30.000,00-50.000,00. Jika anda masuk tanpaguide, maka anda hanya akan melihat lorong-lorong dan dinding batu saja, dan ada kemungkinan untuk tersesat di dalam Lobang Jepang tersebut. Tapi apabila disertai guide, anda bisa mengetahui sejarah dan cerita tentang Lobang Jepang yang sangat menarik dan juga ditunjukkan tempat-tempat yang tersembunyi tanpa khawatir tersesat dan juga bisa melihat indahnya sisi lain ngarai yang dilihat dari dalam Lobang Jepang. Menurut guidekami, ada tiga tempat di Indonesia yang memiliki lubang Jepang, dua tempat lainnya yaitu Bandung dan Pulau Biak. Berdasarkan informasi dari guide kami juga, kami mengetahui bahwa lubang Jepang tersebut tersebar di bawah Kota Bukittinggi, sehingga tinggi bangunan di Kota Bukittinggi tidak boleh melebihi tinggi Jam Gadang, karena struktur tanah tidak akan kuat menopang bangunan yang lebih tinggi Jam Gadang.

Setelah keluar dari Lobang Jepang, kami melihat-lihat cinderamata seperti kain songket, t-shirt, dan lain-lain yang dijual di kawasan Taman Panorama. Guide kami sewaktu di Lobang Jepang menunjukkan kios yang paling murah tetapi dengan kualitas yang baik juga. Tetapi kami belum memutuskan untuk membeli oleh-oleh karena perjalanan baru saja dimulai, kami hanya survei harga untuk selanjutnya membandingkan dengan cinderamata yang dijual di Pasar Atas.

Hari mulai menjelang siang tetapi kami belum mendapatkan penginapan untuk bermalam. Kami menyusuri jalan panorama untuk mencari penginapan tetapi rata-rata penginapan disana sudah terisi penuh. Kemudian kami diantarkan oleh salah satu pegawai hotel disana menuju Batang Sianok Hotel yang terletak di daerah Pasar Bawah, tepatnya di Jalan Soekarno Hatta No. 73 dengan tarif Rp180.000 per malam termasuk sarapan dan extra bed Rp60.000. Setelah beristirahat sejenak, kami menuju destinasi selanjutnya yaitu menara jam yang menjadi ikon Kota Bukittinggi, Jam Gadang. Dari hotel, kami menuju Jam Gadang dengan menggunakan bendi (delman). Tarifnya Rp20.000 per bendi. Disana kami menikmati penganan yang banyak dijajakan di pelataran Jam Gadang, dan tak lupa kami berfoto dengan latar Jam Gadang. Apabila anda ingin berfoto bersama badut yang ada disana, sediakan uang minimal Rp5.000 untuk diberikan kepada badut tersebut.

Sambil menunggu waktu maghrib tiba, kami menikmati semangkuk bakso ditemani segarnya langkok durian di tepi Jam Gadang square. Setelah Sholat Maghrib di musholla yang berada di dalam Ramayana Mall, kami berenam berjalan ke arah Pasar Atas untuk mencari makanan khas Bukittinggi lainnya. Kami singgah di kedai yang ada di pinggir jalan daerah Pasar Atas kemudian kami memesan bermacam-macam makanan dan minuman, mulai dari nasi goreng, mie rebus, nasi kapau, sate padang, es tebak, jus pinang, jus terong belanda, dan lain-lain. Setelah kenyang, kami pulang ke hotel dengan menggunakan bendi tetapi dengan tarif yang lebih mahal (Rp30.000 per bendi). Sesampainya di hotel, kami langsung beristirahat menyimpan tenaga untuk esok hari.

Hari berikutnya, kami check out dari hotel pukul 07.15 WIB. Tujuan kami yaitu membeli oleh-oleh khas Bukittinggi di pasar atas sebelum pulang ke Pekanbaru. Sebelum ke pasar atas, kami singgah di Rumah Kelahiran Bung Hatta. Rumah yang masih terawat ini menjadi museum tempat penyimpanan harta yang masih tersisa milik Wakil Presiden pertama Republik Indonesia. Tak ada biaya karcis masuk, tetapi pengunjung dipersilahkan membayar uang perawatan seikhlasnya di kotak yang disediakan di depan rumah.

SDC10011_576x768

Dari Rumah Kelahiran Bung Hatta, kami melanjutkan perjalanan menuju Pasar Atas melalui 40 anak tangga yang disebut “janjang ampek puluah“. Janjang ini menghubungkan antara Pasar Atas dan Pasar Bawah. Ada dua pasar wisata di Bukittinggi, Pasar Atas menjual berbagai cinderamata dan suvenir khas Bukittinggi, sedangkan buah-buahan dan sayur mayur dijual di Pasar Bawah. Di Pasar Atas, kami membeli suvenir dan oleh-oleh khas Bukittinggi, seperti kain songket, t-shirt, gantungan kunci, dan lain-lain. Karena Pasar Atas letaknya berdekatan dengan Jam Gadang, kami sempat mampir dan berfoto sekali lagi di Jam Gadang. Setelah itu, kami berjalan menyusuri Jalan Panorama menuju Taman Panorama untuk membeli suvenir yang dijual disana. Setelah puas berbelanja, sekitar pukul 11.00 WIB kami menelpon travel untuk menjemput kami kembali lagi ke Pekanbaru.

How to Get There

Satu-satunya cara untuk mencapai kota ini yaitu melalui jalur darat. Perjalanan ke Bukittinggi dari Padang ditempuh dalam waktu sekitar dua jam, sedangkan dari Pekanbaru memakan waktu enam jam.

Iklan

2 thoughts on “Bukittinggi: Seramah Jogja, Sesejuk Bandung

  1. Menurutku sih Bukittinggi lebih sejuk daripada Bandung saat ini, karena Bandung saat ini semakin panas. Pengen juga nih ngerasain jalur darat Bukittinggi – Pekanbaru biar bisa menikmati Kelok Sembilan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s