Beberapa waktu yang lalu media sempat ramai memberitakan tentang dinasti Banten. Kali ini saya juga akan bercerita sedikit tentang dinasti Banten tetapi bukan yang sedang ramai diberitakan oleh media, melainkan dinasti Kesultanan Banten yang berkuasa di Banten pada tahun 1527 – 1813 M. Bekas peninggalan Kesultanan Banten ini terletak di desa Banten Lama, sekitar 10 km dari Kota Serang. Dapat ditempuh menggunakan kendaraan umum atau pribadi.

Kali ini saya kesana ditemani oleh salah seorang teman saya yang merupakan salah satu admin dari Banten Backpacker. Untuk masuk ke kawasan ini, dikenakan biaya retribusi sebesar Rp5.000,00 untuk satu kendaraan. Sayangnya tempat parkir kawasan ini masih belum tertata, sehingga pengunjung bebas parkir dimana saja. Tujuan pertama kami yaitu Keraton Surosowan yang terletak di dekat tempat parkir. Well, tepatnya sih bekas puing-puing Keraton Surosowan karena hanya tertinggal sisa bangunannya saja. Bangunan ini dihancurkan Belanda pada tahun 1680 di masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Yang tersisa dari bangunan ini hanya beberapa tangga, kolam di tengah-tengah bangunan, dan benteng yang mengelilingi keraton.

Selanjutnya kami berjalan menuju Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama yang saat itu sedang direnovasi sehingga kami tidak bisa masuk ke dalamnya. Kami pun hanya berfoto sebentar di dekat Meriam Ki Amuk yang terletak di depan bangunan museum. Setelah itu kami berjalan kaki lagi menuju Masjid Agung Banten yang mungkin merupakan main attraction dari situs Banten Lama. Yang membuat masjid ini berbeda adalah arsitektur atapnya yang mirip seperti pagoda. Tak heran karena masjid ini dirancang oleh arsitek asal Tiongkok yang bernama Tjek Ban Tjut. Di masjid ini terdapat komplek pemakaman sultan-sultan Banten beserta keluarga. Untuk masuk ke areal masjid tidak dikenakan biaya, tetapi kami “dipaksa” untuk mengisi kotak amal yang ada di lorong menuju masjid. Di sebelah timur masjid terdapat menara menjulang setinggi 24 meter. Menara berwarna putih ini juga menjadi ikon Banten dan terdapat juga di lambang Provinsi Banten. Untuk menuju ke puncak menara, kami harus membayar biaya sebesar Rp2.000,00 per orang sebelum menaiki tangga yang hanya bisa dilalui oleh satu orang. Sesampainya di puncak menara, kami pun harus membayar Rp2.000,00 per orang. Berarti total Rp4.000,00 yang dibutuhkan untuk menaiki menara ini. Dari puncak menara, terlihat perkebunan di sekitar kawasan Banten Lama dan pemandangan Laut Jawa.

Matahari sudah sampai di puncaknya ketika kami menuruni menara. Masih ada satu tujuan lagi yang harus kami kunjungi, yaitu Vihara Avalokitesvara yang terletak agak jauh dari Masjid Agung Banten. Vihara ini ditempuh sekitar lima menit menggunakan kendaraan bermotor dari Masjid Agung Banten dan terletak di dekat Benteng Speelwijk. Vihara ini merupakan salah satu vihara tertua di Indonesia. Kondisi di vihara ini sendiri sangat sejuk karena banyak pepohonan rindang di sekitar vihara.

Iklan

4 thoughts on “Menengok Peninggalan Dinasti Banten

  1. Mengenaskan ya kondisinya, mengingat dahulu Banten merupakan salah satu kesultanan yang kuat dan memiliki pengaruh di Nusantara. Bahkan terbaginya Kesultanan Cirebon menjadi Kasepuhan dan Kanoman pun atas ‘prakarsa’ Sultan Banten.

      1. Kapan-kapan kalau ada waktu main ke Museum Nasional di Jakarta mas, terus pergi ke bagian Galeri Emas nya. Di sana ada mahkota Sultan Banten. Dan itu bentuknya kereeeeeeeeen banget.

        Salah satu mahkota raja Indonesia paling rumit dan paling indah yang pernah saya lihat. Terbuat dari emas dengan taburan batu permata kecil-kecil yang rumit banget.

        Waktu pertama lihatnya, saya langsung mikir, kalau itu baru mahkota nya aja, bagaimana dengan kekayaannya yang lain. Makanya sayang banget kalau melihat sisa Kesultanan Banten yang jejaknya tinggal sedikit 🙂

        *malah cerita*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s