Pada 7 Juli 2008, Malaka ditetapkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO. Kota ini dahulu merupakan pusat niaga antara dunia barat dan dunia timur. Pernah dikuasai oleh Portugis, Belanda, dan Inggris sehingga arsitektur bangunan disini pun banyak dipengaruhi oleh gaya Eropa. Selain itu, bangsa Tiongkok dan India yang dahulu banyak berdagang di kota ini juga mempengaruhi kehidupan di Malaka. Setahun sebelumnya, saya sempat mampir sebentar ke kota ini. Meskipun sebentar, tetapi cukup untuk memberi gambaran kepada saya percampuran budaya yang cukup unik di kota ini.

On 7 July 2008, Malacca has been listed as a World Heritage Site by UNESCO. This town was a central trading port that connects western to eastern worlds. The architecture of this town is mainly affected by European influence because this town was once ruled by Portuguese, Dutch, and British. Chinese and Indian merchants who settled in this town also add extra colour to Malacca. A year before, I briefly visited this town. Even though it was a very short visit, it is enough to bring me the unique image of cultural mix in this town.

Karena ingin mengetahui lebih lanjut, saya bersama seorang teman pun berencana mengunjungi kota ini sekali lagi. Kali ini, kami berangkat dari Bengkalis, tepatnya dari Pelabuhan Bandar Sri Setia Raja di Selat Baru menggunakan kapal MV Mulia Kencana dengan tarif PP sebesar Rp400.000,00. Kapal berangkat pada pukul 11.30 WIB dan sampai di Malaka pada pukul 14.20 waktu setempat. Sesampainya di Malaka, tujuan pertama kami yaitu mencari tempat menginap dan menaruh barang-barang kami. Dari pelabuhan, kami berjalan kaki menuju Jalan Melaka Raya 1 (belakang Mahkota Medical Center) karena di jalan ini banyak terdapat penginapan-penginapan murah ala backpacker. Kami menginap di Johan Traveler’s Lodge dengan tarif RM107.00 untuk satu kamar dengan dua tempat tidur. Fasilitas yang disediakan lumayan lengkap antara lain televisi, kamar mandi dalam, dan wifi.

Because I was very keen to know further about this town, I got my friend to accompany me visiting this town once more. This time, we departed from Bengkalis Sri Setia Raja International Port in Selat Baru by MV Mulia Kencana with fare 400,000 rupiahs. The ship embarked at 11.30 and reached Malacca at 14.20 local time. Our first objective as soon as we reached Malacca was looking for an accommodation and put our pieces of luggage there. From Malacca Port, we walked to Jalan Melaka Raya 1 (behind Mahkota Medical Center) because there are many backpacker style budget hotel located in this street. We stayed at Johan Traveler’s Lodge with rate 107 ringgit for a twin bed room per night. The room was equipped with television, bathroom, and wifi.

Setelah menaruh barang-barang di penginapan, kami pun keluar untuk mencari makan siang. Dari penginapan, kami berjalan kaki menuju Pahlawan Walk di Dataran Pahlawan. Pahlawan Walk merupakan sebuah komplek pertokoan yang menjual pakaian dan cinderamata khas Malaka. Kami makan siang di Newton Food Court yang terletak satu lokasi dengan Pahlawan Walk. Satu porsi nasi goreng Pattaya ditemani kepiting goreng dan es sirup leci cukup dihargai sebesar RM20.00. Setelah makan, kami menuju Menara Taming Sari untuk menyaksikan pemandangan Kota Malaka dari ketinggian 110 meter. Menara ini dapat berputar 360 derajat agar para pengunjung dapat melihat panorama kota secara keseluruhan. Untuk masuk ke Menara ini, siapkan RM20 untuk orang dewasa dan RM10 untuk anak-anak. Anda dapat menikmati panorama kota dari menara ini selama tujuh menit lamanya.

After we had put our pieces of luggage, we went out for lunch. We walked to Pahlawan Walk in Dataran Pahlawan. Pahlawan Walk is a shopping complex that full of clothes and souvenir stalls. We had Pattaya fried rice with fried crab and iced lychee syrup at Newton Food Court which located just inside Pahlawan Walk. After we stuffed our stomach, we head to Taming Sari Tower to see the panorama of Malacca from 110 meters altitude. This tower revolves 360 degrees enabling visitors to see the entire Malacca town. To enjoy this tower for about 7 minutes, 20 ringgit admission fee for adults and 10 ringgit for kids were charged.

Dari Menara Taming Sari, kami melanjutkan perjalanan menuju kawasan Bandar Hilir. Di kawasan ini banyak terdapat bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda, Inggris, dan Portugis yang telah berubah menjadi museum. Kalau menurut saya, justru Kota Malaka sendiri yang merupakan museum. Banyak sekali peninggalan sejarah yang tersebar di seluruh penjuru kota. Kami menuju tempat-tempat bersejarah di Malaka hanya dengan berjalan kaki sambil menikmati keindahan kota. Meskipun melelahkan, tetapi menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan bagi kami. Kami menuju Bukit St. Paul yang terletak di belakang komplek museum di kawasan Bandar Hilir. Di puncak bukit ini terdapat bekas Gereja St. Paul yang dibangun oleh Portugis pada tahun 1521. Di depan gereja terdapat patung marmer St. Francis Xavier sebagai bentuk penghormatan kepada beliau karena telah berjasa menyebarkan agama Katolik di Asia Tenggara. Di dalam gereja terdapat batu nisan lama peninggalan Belanda dan terdapat bekas makam St. Francis Xavier sebelum dipindahkan ke Goa.

We continued our journey to Bandar Hilir. In this area, we found many old buildings that were turned into museums. From my perspective, Malacca itself is a museum. There are plentiful historic sites around the corner of this town. We visited almost all historic places in Malacca while admiring its beauty only by foot. So tiring but very enriching our experiences. We visited St. Paul Hill that located just behind the museum complex of Bandar Hilir. On the top of the hill, the St. Paul Church (now in ruins) was built by the Portuguese in 1521. As an honour to St. Francis Xavier for preaching Catholicism in South East Asia, the marble statue of him was erected in front of the ruins. Inside the ruins, there are old Dutch gravestones and the former grave of St. Francis Xavier before it was relocated to Goa, India.

Kami menuruni bukit untuk menuju destinasi selanjutnya, yaitu river cruise di Sungai Melaka. Sebelum ke sungai, kami berhenti sejenak di sebuah reruntuhan pintu gerbang benteng A Famosa. Porta de Santiago, merupakan nama satu-satunya pintu gerbang yang tersisa dari benteng A Famosa. Benteng ini sendiri dibangun oleh penakluk asal Portugal, Alfonso de Albuquerque, untuk melindungi Malaka dari serangan bangsa lain. Tetapi benteng ini belum cukup kuat untuk membendung serangan Belanda pada 1641. Belanda kemudian merenovasi gerbang dengan menambahkan logo pada gerbang tersebut. Pada abad ke-19, Belanda menyerahkan A Famosa kepada Inggris agar tidak jatuh ke tangan Napoleon Bonaparte. Tetapi Inggris justru menghancurkan seluruh benteng tersebut dan hanya menyisakan satu pintu gerbang saja. Setelah berfoto sejenak di sisa reruntuhan benteng, kami menuju ke tempat penjualan tiket Malaka River Cruise dengan berjalan kaki tentunya. Tempat penjualan tiket terletak di dekat pelabuhan Malaka. Harga tiket yaitu sebesar RM15.00 untuk orang dewasa dan RM7.00 untuk anak-anak. Kami menikmati perjalanan kami di atas kapal yang menyusuri 9 km sungai sambil dipandu oleh rekaman suara yang diputar di kapal. Selama perjalanan, kami melewati beberapa jembatan yang dahulu mempunyai peranan penting dalam perekonomian Kota Malaka, antara lain Jembatan Hang Tuah, Jembatan Kampung Jawa, Jembatan Old Bus Station, dan lain-lain.

We descended St. Paul Hill to go to the next destination, the river cruise on Malacca river. Before we go to the boat station, we take a brief stop at a ruin of Fort A Famosa. Porta de Santiago, is the name of the only remaining fort gate. The Fort was built by Portuguese conqueror, Alfonso de Albuquerque, to protect Malacca from invaders. But the fort was not strong enough to repel Dutch invasion on 1641. The Dutch then renovated the fort and engraved a crest on the fort. In the 19th century, the Dutch handed over the fort to the British in order to prevent Malacca fall to Napoleon Bonaparte’s hand. The British then demolished the entire fort but only one gate. After we had taken some photographs at the ruin, we then walked to the ticketing office of Malacca River Cruise. The price of one adult ticket is 15 ringgit and the child ticket is 7 ringgit. We enjoyed our 9 km river cruise with recorded guide voice. We passed several bridges that had important roles in Malacca’s economic activities, such as Hang Tuah bridge, Kampung Jawa bridge, Old Bus Station bridge, and many more.

Puas menikmati cruise, kami berjalan kaki menuju Dutch Square, atau biasa disebut Red Square karena hampir semua bangunan di kawasan ini dicat merah. Kawasan ini merupakan spot foto yang ramai dikunjungi oleh wisatawan. Bangunan yang terdapat di kawasan ini antara lain Stadthuys atau balai kota yang merupakan bangunan buatan Belanda tertua di Asia. Terdapat juga Christ Church dan Menara Jam Tang Beng Swee yang merupakan pemberian dari warga keturunan Tionghoa. Sebelum ke Dutch Square, kami sempat mampir ke kincir air peninggalan Belanda dan replika salah satu bastion A Famosa.

After the cruise, we walked to Dutch Square, or also known as Red Square because almost all the buildings there are painted red. This square is one of the most visited and most photographed place in Malacca. The infamous buildings that can be found there are the Stadthuys, which is the oldest Dutch building in Asia, Christ Church, and Tan Beng Swee Clock Tower, a gift from Chinese settlers. Before we went to the square, we visited a water wheel that was constructed by Dutch and replica of one of the bastions of A Famosa.

Hari sudah mulai gelap. Burung-burung gagak pun mulai beterbangan di sekitar pepohonan. Kami melanjutkan perjalanan kami menuju Jonker Walk (Jalan Hang Jebat) dimana terdapat pasar kaget (Jonker Night Market) yang hanya diadakan pada malam Minggu. Pada malam Minggu, jalan ini ditutup untuk kendaraan karena banyak pedagang yang turun ke jalan membuka lapaknya. Banyak penjual makanan, pakaian, perhiasan, dan mainan menjajakan dagangannya kepada pengunjung. Di ujung jalan ini juga terdapat panggung yang biasa dipakai untuk menyanyi oleh warga Tionghoa pada malam Minggu. Tetapi pada saat kami kesana, di panggung tersebut sedang diadakan perlombaan catur untuk anak-anak. Setelah puas berjalan-jalan dan pegal mulai terasa di kaki, kami pun segera kembali ke hotel untuk beristirahat. Sebelum ke hotel, kami mampir makan malam di sebuah restoran yang menjual makanan khas Indonesia.

A murder of crows was flying above our heads as darkness emerged. We then head to Jonker Walk (Jalan Hang Jebat) where the Jonker Night Market takes place every Saturday night. Every Saturday night, the road is closed for vehicles because it turns into a night market as many vendors open their stalls. There were clothes, foods, jewellery, and toys vendors offering their stuff to the visitors. At the end of the road, there is a stage that usually performs Chinese singing competition on Saturday night. But when we were there, there was a chess championship for kids on the stage. Our foot was sore after a full day walking. We went back to the hotel to had some good rest.

Keesokan harinya, kami check out dari hotel pukul 08.00 waktu setempat. Kami sarapan di sebuah warung yang berada di bawah lapangan di Dataran Pahlawan. Kami memesan secangkir kopi dan telur setengah matang di warung yang ternyata dimiliki oleh seorang ibu asal Ponorogo, Jawa Timur. Setelah sarapan, kami berjalan ke kawasan Bandar Hilir untuk mengunjungi replika Istana Kesultanan Malaka. Biaya masuknya yaitu RM2.00 per orang. Di dalamnya terdapat diorama pengadilan terhadap tahanan Kesultanan Malaka, lukisan, pakaian adat dari semua negara bagian di Malaysia, senjata tradisional, diorama pedagang-pedagang yang datang ke Malaka, miniatur istana, dan lain-lain. Dari Istana, kami melanjutkan perjalanan menuju Kompleks Muzium Maritim yang terletak di dekat Pelabuhan Malaka. Di kompleks ini terdapat bangunan museum dan sebuah replika kapal Portugis (Flor de la Mar) yang menjadi museum juga. Untuk masuk ke museum, anda dikenakan biaya RM6.00 per orang. Museum ini memamerkan sejarah kelautan Malaka dari sejak zaman Kesultanan Malaka, penaklukan oleh Portugis, kedatangan Belanda dan Inggris, sampai kemerdekaan Malaysia.

On the next day, we checked out from the hotel at 08.00 local time. We then had our breakfast at a stall that located below the Dataran Pahlawan. We had a cup of coffee accompanied by a soft-boiled egg at the stall that turned out to be owned by a woman from Ponorogo, East Java. After we had finished our breakfast, we walked to Bandar Hilir to see the replica of Malacca Sultanate Palace. The admission fee was 2.00 ringgit per person. We can see a diorama of a court in Malacca Sultanate, paintings, traditional clothes from all states in Malaysia, traditional and ceremonial weaponry, a diorama of merchants in Malacca Port, miniatures of the Palace, and many others in the museum. Another museum that we visited on that day is the Maritime Museum Complex that situated adjacent to Malacca Port. The complex consists of a museum building and a replica of Portuguese carrack (Flor de la Mar). With the admission fee of 6.00 ringgit per person, this museum exhibits the Malacca’s maritime history from the era of Malacca Sultanate, Portuguese conquest, the arrival of the Dutch and the English, until the independence of Malaysia.

Iklan

14 thoughts on “Malaka: The Living Museum

  1. Melaka cukup berkesan, sekitar Jonker Street enak banget buat jalan kaki, wisata kesini juga gak terlalu menguras kantong dan banyak spot wisata sejarah yang bikin penasaran 🙂

    Duh, jadi kangen ke Melaka lagi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s